BEKASI.POJOKSATU.id - Pemerintah Desa Kertarahayu, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, terus menjalankan Program Dandan Rumah Warga sebagai upaya membantu masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni. Hingga pertengahan 2026, program tersebut telah membangun lima unit rumah milik warga kurang mampu.
Kepala Desa Kertarahayu, Rudi Catur Pribadi, mengatakan program tersebut telah berjalan selama kurang lebih dua tahun dengan memanfaatkan anggaran desa yang terbatas.
"Program ini sudah berjalan sekitar dua tahun. Sampai saat ini total sudah ada lima unit rumah yang mendapatkan bantuan," ujarnya, Minggu, 28 Juni 2026.
Rudi menjelaskan, banyak warga yang mengajukan bantuan. Namun pemerintah desa harus melakukan seleksi dan verifikasi secara ketat karena keterbatasan anggaran.
Baca Juga: Pemdes Kertarahayu Mulai Bangun Rumah Lansia 76 Tahun Lewat Program Dandan Rumah Warga
"Betul, anggaran desa saat ini memang sangat terbatas. Karena itu, kami benar-benar memilih dan mengalokasikan bantuan kepada warga yang memang sangat membutuhkan dan tidak memiliki kemampuan untuk membangun rumahnya sendiri," katanya.
Menurutnya, pemerintah desa secara rutin meminta ketua RT memantau kondisi warganya agar rumah-rumah yang sudah membahayakan dapat segera diusulkan sebagai penerima bantuan.
"Kami merasa pemerintah desa memiliki tanggung jawab agar jangan sampai ada warga kami yang rumahnya roboh atau tertimpa bangunan karena kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Karena itu, setiap rapat mingguan kami selalu menginstruksikan kepada para RT agar terus mengontrol kondisi warganya yang benar-benar membutuhkan," ujarnya.
Rudi mengatakan penerima bantuan diprioritaskan bagi warga yang memiliki lahan tetapi tidak mampu membangun rumah, serta lansia yang hidup sebatang kara tanpa keluarga yang dapat membantu.
Baca Juga: Tak Perlu Antre di Samsat, Pajak Kendaraan di Kabupaten Bekasi Kini Bisa Dicicil
"Memang banyak yang mengajukan. Namun yang kami prioritaskan adalah warga yang benar-benar membutuhkan. Misalnya mereka memiliki tanah atau lahan, tetapi tidak memiliki biaya untuk membangun rumah. Kami juga memprioritaskan warga yang hidup sebatang kara, tidak memiliki suami atau keluarga yang dapat membantu," katanya.
Ia menegaskan seluruh calon penerima menjalani proses verifikasi sosial dan ekonomi sebelum ditetapkan sebagai penerima bantuan.
"Ya, betul. Semuanya diverifikasi. Kami melihat kondisi kehidupan mereka secara menyeluruh. Kalau memang benar-benar lansia atau hidup sebatang kara, tentu otomatis tidak ada lagi yang bisa membantu selain pemerintah desa," tutupnya.***




