BEKASI.POJOKSATU.ID - Sudah hampir sebulan air mengepung Kampung Penombo, Desa Pantai Harapanjaya, Kecamatan Muaragembong, Kabupaten Bekasi.
Banjir yang tak kunjung surut memaksa warga menjalani kehidupan yang jauh dari kata normal.
Jalan berubah menjadi sungai, rumah terendam, dan perahu menjadi alat utama untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Inflasi Awal Tahun Tertinggi di Jabar, Pemkot Bekasi Pasang Alarm Harga Jelang Ramadan
Setiap pagi, Karim (38) harus memastikan perahunya siap digunakan sebelum beraktivitas. Jalan darat yang biasa dilalui sepeda motor kini tak lagi terlihat.
Air dengan kedalaman bervariasi membuat warga tak punya pilihan selain mengandalkan perahu untuk bergerak.
“Sudah sekitar satu bulanan. Untuk transportasi kebanyakan pakai perahu karena jalur darat tidak bisa dilalui,” ujar Karim, Senin 2 Februari 2026.
Baca Juga: Diguyur Hujan Deras, Bantaran Kali Bekasi Longsor hingga 6 Rumah Hancur
Banjir kali ini disebut warga sebagai salah satu yang terlama. Air datang dari luapan Sungai Ciherang, diperparah kiriman dari wilayah hulu dan dugaan jebolnya tanggul.
Meski hujan tidak selalu turun di kampung mereka, air tetap bertahan dan sulit surut.
“Paling dalam itu sekitar dua meter, yang paling rendah setengah meter. Karena hujannya hampir merata di atas, jadi yang di bawah ini kena semua. Airnya lama sekali surut,” kata Karim.
Baca Juga: Dana Transfer Dipangkas 25 Persen, Pemprov Jabar Efisiensi Besar-besaran
Kondisi ini membuat aktivitas warga lumpuh. Banyak yang tak bisa bekerja, anak-anak kesulitan bersekolah, dan kehidupan sehari-hari harus dijalani di tengah genangan.
Warga hanya bisa beradaptasi, memindahkan aktivitas ke ruang yang lebih tinggi, atau bertahan di rumah dengan keterbatasan.
Di tengah kondisi tersebut, dapur umum menjadi tumpuan harapan. Ribuan warga menggantungkan kebutuhan makan harian dari bantuan yang dimasak dan dibagikan menggunakan perahu.
Namun, banjir berkepanjangan membuat pasokan logistik kian menipis.
Anggota Tagana Kabupaten Bekasi, Abdurahman Daeng (39), mengatakan dapur umum yang berdiri sejak hampir dua pekan terakhir kini mengalami kesulitan suplai.
Baca Juga: Polisi Tegaskan Operasi Keselamatan Bukan untuk Tilang, Ini Penjelasannya
“Untuk sementara kondisi dapur umum kami cukup kekurangan. Suplai memang terbatas karena banjir terjadi serentak di banyak daerah,” ujarnya.
Dapur umum yang melayani sekitar 7.000 warga terdampak itu kini hanya mampu memproduksi sekitar 500 porsi makanan per hari. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan awal bencana yang bisa mencapai 1.500 porsi.
“Semuanya tergantung logistik yang ada. Kami siasati lauknya agar warga tetap bisa makan. Distribusinya juga pakai perahu dan hanya satu kali sehari,” kata Abdurahman.
Baca Juga: Anggaran Belum Ada, Rochadi Tetap Kawal Penyempurnaan Terminal B Cikarang
Meski bantuan dari relawan terus berdatangan, warga berharap perhatian pemerintah lebih merata.
Bagi mereka, banjir bukan sekadar genangan air, melainkan ujian panjang yang menguras tenaga, emosi, dan harapan.
Di tengah air yang tak kunjung surut, warga Muaragembong hanya ingin kembali menjalani hidup normal.***




