BEKASI.POJOKSATU.id - Sejumlah orang tua murid SMPN 16 Bekasi merasa keberatan dengan adanya rencana kegiatan study tour ke wilayah Yogyakarta yang diadakan pihak sekolah.

Berdasarkan informasi yang diterima bekasi.pojoksatu.id, kegiatan study tour tersebut nantinya akan diimplementasikan dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Seorang wali murid yang enggan menyebut identitasnya mengatakan rencana tersebut disampaikan oleh pihak sekolah melalui wali kelas kepada para siswa.

"Itu informasi diberikan oleh pihak sekolah melalui wali kelas kepada anak-anak, akan diadakan study tour ke Yogyakarta bulan Februari mendatang," ujar dia, Jumat, 8 November 2024.

Baca Juga: Kota Bekasi Kekurangan Guru Sekolah Dasar

Dirinya mengaku keberatan dengan rencana yang akan dilakukan pihak sekolah. Hal ini dikarenakan secara keuangan belum stabil pasca pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu.

"Keuangan saya pribadi belum stabil dan penghasilan belum ada, akibat pandemi Covid-19," jelas dia.

Penentuan biaya kegiatan tersebut tidak dibahas secara terbuka dan terperinci dalam rapat dengan orang tua atau wali murid. Biaya study tour tersebut sebesar Rp1,6 juta.

Wali murid tersebut berharap, kegiatan wisata seharusnya tidak terlalu jauh, agar biaya yang dikeluarkan oleh para murid tidak begitu besar.

Baca Juga: Pemkot Bekasi Sulit Kontrol Peredaran Rokok Eceran di Sekitar Lingkungan Sekolah

"Rencana seperti ini lebih baik melihat keadaan ekonomi para orang tua siswa, tidak semuanya bisa dan mampu," tegasnya.

Ia merasa keberatan dengan kegiatan sekolah yang akan dilaksanakan ke luar kota tersebut.

“Sejujurnya kalau kondisi keuangan sedang stabil, siapapun termasuk saya ingin membahagiakan keluarga, termasuk anak ikut wisata,” jelas dia.

Dirinya berharap, bahwa Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi bisa memberikan solusi terhadap keluh kesah para wali murid atas kegiatan sekolah tersebut.

“Saya harap Dinas Pendidikan Kota Bekasi ikut menyikapi dan memutuskan terhadap kegiatan tersebut. Utamanya bagi yang sedang kesulitan ekonomi, namun kewajiban materi pelajaran tetap bisa dilakukan siswa,” pungkas dia. ***