BEKASI.POJOKSATU.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat mengungkap analisis teknis di balik meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang melanda Kota dan Kabupaten Bekasi dalam sepekan ke depan.
Sejumlah faktor atmosfer dan kelautan teridentifikasi berperan aktif memicu pertumbuhan awan hujan dengan intensitas menengah hingga sangat lebat.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Rakhmat Prasetia, menjelaskan bahwa dinamika atmosfer global dan regional saat ini sedang mendukung peningkatan aktivitas konvektif di wilayah Jawa Barat.
Baca Juga: Pemerintah Daerah Gerak Cepat, Kebutuhan Pengungsi Banjir Jadi Prioritas
Salah satu faktor utamanya adalah masih bertahannya kondisi La Niña lemah di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.
“Indeks ENSO di wilayah NINO 3.4 masih terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Niña lemah, sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan,” ujar Rakhmat, Jumat 23 Januari 2026.
Selain itu, BMKG mencatat aktivitas gelombang atmosfer, khususnya gelombang Kelvin dan Low Frequency, diprakirakan aktif melintasi wilayah Pulau Jawa.
Baca Juga: Tanah Terus Bergerak, Pemerintah Siapkan Langkah Darurat Cegah Longsor Susulan
Gelombang ini berperan penting dalam memicu naiknya massa udara basah ke atmosfer atas, yang kemudian berkembang menjadi awan konvektif.
“Dalam skala regional, aktivitas gelombang Kelvin dan Low Frequency diprakirakan aktif dan berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di Jawa Barat,” katanya.
Faktor kelautan juga menjadi pendukung signifikan. Suhu muka laut di sekitar perairan Indonesia saat ini terpantau relatif hangat.
Baca Juga: Plt Bupati Bekasi Ajak Dunia Usaha Turun Tangan Bantu Korban Banjir
Kondisi tersebut berfungsi sebagai sumber suplai uap air yang melimpah ke atmosfer, sehingga memperkuat proses pembentukan awan hujan di daratan, termasuk wilayah Bekasi.
“Laut yang hangat memberikan pasokan uap air yang cukup besar, sehingga potensi hujan dengan intensitas tinggi semakin meningkat,” jelas Rakhmat.
Tak hanya itu, BMKG juga mendeteksi adanya belokan angin dan daerah konvergensi di wilayah Jawa Barat.
Pertemuan massa udara ini menyebabkan perlambatan angin dan penumpukan uap air di satu wilayah, yang kemudian memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Kombinasi faktor atmosfer global, regional, dan lokal tersebut membuat potensi hujan lebat disertai kilat dan angin kencang meningkat pada periode 23 hingga 29 Januari 2026.
Baca Juga: Perumnas 3 Banjir, Ketinggian Air Capai 1 Meter Lebih
Bekasi menjadi salah satu wilayah yang masuk dalam zona waspada cuaca ekstrem.
BMKG mengimbau masyarakat untuk memahami bahwa kondisi ini bukan sekadar hujan biasa, melainkan hasil dari dinamika atmosfer yang kompleks.
“Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor,” tandas Rakhmat.
Analisis teknis ini sekaligus menjadi peringatan dini agar masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.***




