BEKASI.POJOKSATU.ID - Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Cikarang menghadirkan kurikulum pembelajaran khusus dalam program Pesantren Ramadan yang diikuti oleh 181 warga binaan pemasyarakatan.
Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman keagamaan yang lebih komprehensif melalui berbagai materi Islamic studies serta metode pembelajaran terstruktur selama bulan suci Ramadan.
Kegiatan Pesantren Ramadan tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kerohanian yang dilaksanakan mulai 23 Februari hingga 13 Maret 2026.
Baca Juga: Pemkab Bekasi Dukung Program 3 Juta Rumah Lewat Pembangunan Rusun Subsidi di Meikarta
Dalam program tersebut, para warga binaan mengikuti berbagai kegiatan pembelajaran agama yang berlangsung lima hari dalam sepekan, yakni setiap Senin hingga Jumat.
Kepala Lapas Kelas IIA Cikarang, Urip Dharma Yoga, mengatakan bahwa bulan Ramadan menjadi momentum penting bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi diri sekaligus meningkatkan kualitas spiritual selama menjalani masa pembinaan.
“Bulan Ramadan adalah momentum terbaik untuk memperbaiki diri. Kami ingin warga binaan memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan keimanan, memperbaiki akhlak, dan membangun komitmen menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar Urip Dharma Yoga, dikutip dari laman resmi Pemkab Bekasi, 9 Maret 2026.
Baca Juga: Lebih dari 19 Ribu ASN Bekasi Dipastikan Terima THR Tahun Ini, Pemkot Siapkan Anggaran Rp160 Miliar
Menurutnya, tujuan pemasyarakatan tidak hanya sebatas menjalani masa pidana, tetapi juga membentuk perubahan sikap dan pola pikir warga binaan agar dapat kembali ke masyarakat dengan karakter yang lebih baik.
“Tujuan pemasyarakatan bukan hanya menjalani masa pidana, tetapi bagaimana warga binaan dapat kembali ke masyarakat dengan perubahan sikap dan pola pikir. Melalui Pesantren Ramadan ini kami berharap nilai-nilai keagamaan benar-benar tertanam,” tegasnya.
Dalam pelaksanaannya, kurikulum Pesantren Ramadan dirancang secara sistematis agar para warga binaan tidak hanya memahami ibadah secara ritual, tetapi juga mampu memahami nilai sosial dalam ajaran Islam.
Baca Juga: Tri Adhianto Tegaskan Disiplin ASN Saat Apel Pemkot Bekasi
Koordinator Kurikulum Pesantren Ramadan Lapas Cikarang, Dr Yuni Asdhiani, menjelaskan bahwa materi pembelajaran yang diberikan merupakan gabungan berbagai kajian Islamic studies, termasuk pembahasan tentang Ramadan, zakat, dan wakaf.
“Materi yang diberikan merupakan gabungan Islamic studies seperti pembahasan Ramadan, zakat, dan wakaf, sehingga warga binaan tidak hanya memahami ibadah secara ritual tetapi juga nilai sosial dalam kehidupan beragama,” jelas Dr Yuni Asdhiani.
Ia menambahkan bahwa tenaga pengajar dalam kegiatan tersebut berasal dari penyuluh agama Islam serta alumni Pendidikan Kader Ulama Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bekasi yang memiliki kompetensi dalam bidang pembinaan keagamaan.
“Tenaga pengajar berasal dari penyuluh agama Islam serta alumni PKU MUI Kabupaten Bekasi, sehingga materi yang diberikan dapat disampaikan secara komprehensif kepada warga binaan,” katanya.
Selain kajian keislaman secara klasikal, program Pesantren Ramadan juga dilengkapi dengan berbagai kelas tambahan yang sudah menjadi bagian dari program pembinaan rutin di Lapas Cikarang.
Baca Juga: Pemkot Bekasi Salurkan 27 Bantuan Disabilitas, Tri Adhianto Respons Laporan Warga
Dr Yuni menjelaskan bahwa pada hari-hari tertentu warga binaan tetap mengikuti beberapa kelas pembelajaran seperti tahfiz Al-Qur’an, iqra, kelas kitab, hingga kelas nisa yang diperuntukkan bagi warga binaan perempuan.
“Pada Selasa dan Kamis tetap ada kelas pembelajaran seperti kelas kitab, tahfiz, iqra, serta kelas nisa bagi warga binaan perempuan,” ungkapnya.
Melalui kurikulum yang terstruktur tersebut, pihak Lapas Cikarang berharap kegiatan Pesantren Ramadan tidak hanya menjadi aktivitas keagamaan musiman.
Tetapi mampu memberikan dampak positif bagi pembentukan karakter warga binaan.
Program ini diharapkan dapat membantu para warga binaan memperkuat spiritualitas sekaligus menyiapkan diri menjadi pribadi yang lebih baik ketika nantinya kembali ke tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pembinaan.***




