BEKASI.POJOKSATU.ID - Dunia usaha di Kota Bekasi masih berada dalam bayang-bayang ketidakpastian global meskipun sempat muncul kabar gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.
Kondisi ini membuat para pelaku usaha memilih strategi bertahan dengan menekan pengeluaran, sekaligus berupaya menghindari pemutusan hubungan kerja terhadap karyawan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia Kota Bekasi, Farid Elhakamy, mengungkapkan bahwa langkah efisiensi menjadi pilihan utama perusahaan untuk menjaga keberlangsungan usaha tanpa harus mengorbankan tenaga kerja.
Baca Juga: Proyek JPO Stasiun Bekasi Kembali Digeber, Ditarget Rampung Juni 2026
“Saat ini semua mulai melakukan efisiensi, terutama dengan mengurangi kegiatan yang tidak berkaitan langsung dengan produksi, marketing, dan distribusi,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, 10 April 2026.
Ia menjelaskan, efisiensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengurangan aktivitas rapat yang tidak mendesak hingga memangkas berbagai kegiatan operasional yang dinilai tidak memberikan dampak langsung terhadap kinerja perusahaan.
Namun demikian, Farid menegaskan bahwa PHK bukanlah langkah yang diutamakan dalam situasi saat ini.
Perusahaan masih berupaya semaksimal mungkin mempertahankan tenaga kerja sebagai bagian penting dari keberlangsungan bisnis.
Baca Juga: Rapat Krusial Ganti Rugi Korban SPBE Bekasi Gagal Total, Perusahaan Tak Hadir Tepat Waktu
“Selama perusahaan masih bisa bertahan dengan efisiensi, kami akan menahan diri untuk tidak melakukan PHK. Itu pilihan terakhir,” tegasnya.
Menurutnya, keputusan untuk menghindari PHK juga mempertimbangkan dampak sosial yang luas, mengingat banyak pekerja yang bergantung pada stabilitas pendapatan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Farid mengakui, sempat ada optimisme di kalangan pelaku usaha ketika kabar gencatan senjata mencuat, dengan harapan dapat menstabilkan harga komoditas global dan mendorong pemulihan ekonomi.
Namun, harapan tersebut belum sepenuhnya terealisasi. Konflik di kawasan Timur Tengah yang masih berlangsung membuat ketidakpastian tetap tinggi, sehingga pelaku usaha memilih bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan bisnis.
“Awalnya ada optimisme, tapi situasi belum benar-benar kondusif. Ketidakpastian masih tinggi,” tandasnya.
Kondisi ini membuat banyak perusahaan di Bekasi menahan ekspansi dan fokus pada menjaga stabilitas internal.
Langkah efisiensi dinilai sebagai strategi paling realistis untuk menghadapi situasi global yang belum menentu, sekaligus menjaga keberlangsungan tenaga kerja.
Dengan pendekatan tersebut, dunia usaha diharapkan mampu melewati masa sulit tanpa harus melakukan pengurangan karyawan secara besar-besaran.
Upaya ini juga menjadi bentuk komitmen pelaku usaha dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan perlindungan tenaga kerja.***




