BEKASI.POJOKSATU.id - Keluarga seorang siswa SMKN 1 Kota Bekasi berinisial D berencana melaporkan dugaan perundungan verbal yang dialami anaknya kepada Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi.

Langkah tersebut diambil setelah D mengaku mengalami sejumlah perlakuan dari oknum guru yang dinilai membuatnya tertekan secara psikologis. Kondisi itu disebut membuat D mengalami trauma hingga tidak ingin kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Orang tua D mengatakan, keluarga saat ini fokus memberikan pendampingan kepada anaknya sekaligus mencari langkah yang tepat agar persoalan tersebut dapat ditangani.

“Kami ingin anak kami mendapatkan pendampingan. Sampai sekarang dia masih trauma dan tidak mau kembali ke sekolah,” kata orang tua D yang meminta identitasnya tidak disebutkan, Selasa, 11 Agustus 2026.

D mengaku mengalami sejumlah kejadian sejak duduk di kelas XI. Salah satunya terjadi ketika dirinya terlambat masuk kelas setelah salat Jumat karena sempat tertidur di masjid sekolah.

D mengatakan, setelah meminta maaf kepada guru berinisial AS, dirinya justru mendapat ucapan yang dianggap mempermalukan dirinya di hadapan teman-teman.

“Sepatu mu KW!” kata D menirukan ucapan tersebut.

Ia juga mengaku sepatu miliknya sempat dibanting di hadapan siswa lainnya. D kemudian memilih pulang karena merasa malu.

Baca Juga: Siswa SMKN 1 Kota Bekasi Diduga Jadi Korban Perundungan Verbal, Trauma hingga Enggan Sekolah

Tekanan serupa kembali dirasakan D ketika menjalani proses verifikasi laporan PKL pada Rabu, 22 Juli 2026.

Saat itu, D mengaku lupa membawa buku jurnal dan laporan PKL ketika dijadwalkan melakukan presentasi. Guru penguji berinisial AST kemudian menegurnya.

Menurut D, teguran tersebut disertai perkataan yang dinilainya merendahkan serta pernyataan mengenai kemungkinan dirinya dikeluarkan dari sekolah.

D mengaku telah meminta maaf atas kelalaiannya. Namun, setelah kejadian tersebut, ia mendatangi ruang BK dalam kondisi menangis untuk mencari bantuan.

Alih-alih mendapatkan pendampingan yang diharapkan, D mengaku mendapat penjelasan bahwa guru tersebut memang memiliki karakter keras.

“Emang bapak orangnya begitu (keras), tahun lalu juga ada kejadian sama seperti ini,” kata D menirukan ucapan guru BK berinisial AR.

Menurut D, respons tersebut membuat dirinya semakin terpukul.

“Saya datang ke BK karena saya menangis dan ingin mencari tempat untuk menenangkan diri. Saya berharap bisa dibantu,” ujarnya.

Keluarga menilai lingkungan sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk belajar.

Baca Juga: Viral! Pelajar SMPN 1 Tambun Selatan Bully Teman Sendiri di Luar Sekolah

Karena itu, mereka berharap dugaan tersebut tidak dibiarkan dan dapat ditangani secara serius.

“Kami tidak ingin masalah ini dibiarkan. Anak pergi ke sekolah seharusnya merasa aman dan mendapatkan perlindungan,” ujar orang tua D.

Keluarga juga berharap adanya evaluasi agar persoalan serupa tidak dialami siswa lain.
Sementara itu, dugaan perundungan tersebut masih berdasarkan keterangan D dan keluarganya.

Pihak sekolah diharapkan memberikan klarifikasi mengenai tudingan tersebut, termasuk langkah yang telah dilakukan terhadap persoalan yang dialami D.

Hingga berita ini diturunkan, pihak SMKN 1 Kota Bekasi belum memberikan tanggapan terkait dugaan perundungan maupun tudingan perlakuan sejumlah guru terhadap D.***