BEKASI.POJOKSATU.id - Seorang bayi berusia sembilan bulan di Kota Bekasi sempat menjalani perawatan intensif di ruang Pediatric Intensive Care Unit (PICU) setelah mengikuti imunisasi di salah satu puskesmas di wilayah Bekasi Barat.

Orang tua bayi berinisial A menduga anaknya menerima vaksin DPT, padahal kedatangannya ke puskesmas bertujuan untuk imunisasi campak sesuai rekomendasi dokter spesialis anak.

"Saat pendaftaran saya sudah menyampaikan bahwa tujuan kami datang untuk vaksin campak. Saya juga menyerahkan buku KIA. Petugas juga kembali mengonfirmasi bahwa anak saya akan menerima vaksin campak," ujar A, Rabu, 1 Juli 2026.

A mengaku mulai merasa ada kejanggalan ketika proses imunisasi dilakukan dengan dua kali suntikan di kedua paha anaknya. Saat mempertanyakan hal tersebut, petugas disebut menjelaskan bahwa vaksin yang diberikan adalah DPT.

Baca Juga: Ombudsman Temukan Dugaan Malaadministrasi sebelum Kecelakaan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur

"Saya sempat bertanya, 'Bu, memang suntikannya di paha? Memang dua kali suntik?' Bidan menjawab, 'Iya, ini DPT sama ininya.' Saya langsung kaget dan bilang, 'Hah? Kok DPT, Bu? Saya ke sini mau vaksin campak'," katanya.

Menurut A, anaknya sebelumnya telah menerima vaksin DPT dosis ketiga di sebuah klinik. Riwayat imunisasi tersebut juga tercatat lengkap dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).

"Semua tercatat lengkap di buku KIA, termasuk merek vaksin dan tanggal pemberiannya. Tetapi anak saya justru disuntik DPT 3 lagi yang panas," ujarnya.

Kurang dari sehari setelah imunisasi, kondisi bayi tersebut dikatakan menurun drastis. Anak mengalami demam tinggi disertai kejang berkepanjangan hingga akhirnya dilarikan ke rumah sakit.

"Sesampainya di IGD, dokter mengatakan anak saya harus segera masuk PICU karena kejangnya sudah terlalu lama," ucapnya.

Baca Juga: Dishub Bekasi Ungkap CCTV di Simpang Unisma Mati Saat Kecelakaan Maut, Traffic Light Dipastikan Berfungsi

A menuturkan, berdasarkan penjelasan dokter, anaknya mengalami radang atau pembengkakan otak yang dipicu kejang akibat demam tinggi.

Ia juga menyampaikan bahwa pihak puskesmas telah mendatangi keluarganya untuk menyampaikan permohonan maaf dan meminta penjelasan mengenai kronologi kejadian. Namun, hingga kini belum ada pembahasan terkait bentuk pertanggungjawaban.

"Sampai saat ini pihak puskesmas sudah datang menemui kami, tetapi sebatas meminta maaf dan menanyakan kronologinya. Belum ada pembicaraan mengenai bentuk pertanggungjawaban," katanya.

Saat ini kondisi bayi tersebut telah membaik dan diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Meski demikian, ia masih harus menjalani pengobatan lanjutan serta kontrol rutin sesuai anjuran tim medis.***