BEKASI.POJOKSATU.ID - Kota Bekasi kini dihadapkan pada tantangan cuaca ekstrem yang kian terasa.
Belum lama keluar dari ancaman banjir, wilayah ini mulai dibayangi potensi musim kemarau yang diprediksi datang lebih cepat dan dengan intensitas kekeringan lebih tinggi.
Perubahan kondisi yang cepat dari curah hujan tinggi menuju potensi kekeringan menjadi sinyal nyata dampak perubahan iklim yang harus diwaspadai.
Pemerintah Kota Bekasi pun diminta tidak lengah dan segera mengambil langkah antisipasi.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, mengakui bahwa hingga saat ini kondisi kekeringan ekstrem belum terlihat di wilayahnya.
Hal itu karena masih tersedianya sumber air dari sejumlah aliran sungai yang melintasi Kota Bekasi.
“Sejauh ini belum terlihat, karena kita masih memiliki aliran sungai seperti Kali Bekasi, Kali Sunter, dan Kali Cakung,” ujar Tri, Senin 30 Maret 2026.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah dan masyarakat merasa aman.
Baca Juga: Pemkot Bekasi Serahkan LKPD 2025 ke BPK Jabar, Targetkan Raih Opini WTP
Menurutnya, langkah antisipatif harus mulai dilakukan sejak dini untuk menghadapi kemungkinan terburuk saat musim kemarau tiba.
“Kita harus mulai menghemat dan memaksimalkan sumber air yang ada,” tegasnya.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Pemkot Bekasi juga mendorong pembangunan sumur resapan di berbagai titik.
Selain berfungsi sebagai cadangan air saat musim kemarau, sumur resapan juga berperan dalam mengurangi risiko banjir saat musim hujan kembali datang.
“Sumur resapan ini menjadi cadangan air saat kemarau dan juga membantu mengurangi risiko banjir,” jelasnya.
Fenomena peralihan cepat dari banjir menuju potensi kekeringan ini juga sejalan dengan prediksi BMKG.
Lembaga tersebut memperkirakan musim kemarau di Jawa Barat akan datang lebih awal dari biasanya, dengan tingkat kekeringan yang lebih tinggi.
Baca Juga: Wawali Bekasi Hadiri Halalbihalal di Gedung Sate, Dorong Sinergi dan Percepatan Pembangunan
Meski hingga awal pekan ini hujan masih turun di sejumlah wilayah Bekasi, BMKG memprediksi sebagian daerah di Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April, sementara Jawa Barat diperkirakan menyusul pada Mei.
Kondisi ini menunjukkan bahwa daerah perkotaan seperti Bekasi harus siap menghadapi dua ancaman sekaligus, yakni banjir saat musim hujan dan kekeringan saat musim kemarau.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat lebih adaptif terhadap perubahan cuaca yang semakin tidak menentu.
Langkah sederhana seperti penghematan air hingga penguatan infrastruktur menjadi kunci untuk menghadapi tantangan iklim ke depan.***




