BEKASI.POJOKSATU.ID - Upaya normalisasi Kali Bekasi sebagai bagian dari pengendalian banjir di wilayah Bogor, Depok, dan Bekasi (Bodebek) menghadapi tantangan berat di tengah musim hujan.

Tingginya debit air akibat curah hujan ekstrem menjadi hambatan teknis yang memengaruhi progres pekerjaan konstruksi di lapangan.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Provinsi Jawa Barat, Dikky Achmad Sidik, mengakui bahwa kondisi hidrologi saat musim hujan menuntut strategi khusus agar proyek tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan maupun kualitas konstruksi.

Baca Juga: Selama Ramadhan 2026, Jam Masuk Sekolah di Kota Bekasi Mulai Pukul 08.00

“Tantangan pelaksanaan konstruksi terutama pada musim hujan yaitu tingginya debit air sehingga dapat memengaruhi progres pekerjaan konstruksi,” ujar Dikky, di Bekasi, Jumat 20 Februari 2026.

Normalisasi Kali Bekasi sendiri merupakan bagian dari proyek strategis nasional yang dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane.

Pada Paket 1, pekerjaan mencakup segmen sepanjang kurang lebih 11,4 kilometer dari pertemuan Sungai Cileungsi–Cikeas hingga Bendung Kali Bekasi, dengan capaian terbangun sekitar 10,45 kilometer.

Baca Juga: Patroli Perintis Presisi Polres Metro Bekasi Sigap Tangani Kecelakaan di Cikarang Timur

Namun, derasnya aliran sungai saat hujan meningkatkan risiko kerja di lapangan, terutama dalam pembangunan tanggul, pengerukan sedimentasi, dan perkuatan tebing.

Debit air yang tiba-tiba naik dapat menggenangi area kerja serta mengancam stabilitas struktur sementara.

Sebagai langkah mitigasi, kontraktor menerapkan metode pembuatan kistdam atau tanggul sementara.

Baca Juga: Air Setinggi 2,5 Meter Rendam Permukiman, Warga Margahayu Andalkan Evakuasi Mandiri

Struktur ini berfungsi membendung atau mengalihkan aliran air agar tidak masuk ke zona konstruksi.

Dengan adanya kistdam, pekerjaan dapat dilakukan dalam kondisi yang relatif lebih aman dan terkendali, meski tetap membutuhkan pengawasan ketat.

Metode ini juga membantu menjaga kualitas pekerjaan agar tidak terdampak erosi akibat arus deras.

Selain pendekatan teknis, aspek keselamatan kerja menjadi perhatian utama.

Dikky menegaskan bahwa penerapan sistem manajemen keselamatan konstruksi tetap dijalankan secara ketat di seluruh tahapan pekerjaan.

Baca Juga: Diserbu 2.000 Penumpang per Hari, Halte Transjakarta Komsen Jatiasih Akhirnya Akan Dibangun Permanen

“Dalam hal ini, Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan kerja, warga, dan kualitas konstruksi,” katanya.

Penerapan SMKK mencakup prosedur pengamanan pekerja, pengawasan alat berat, hingga mitigasi risiko terhadap masyarakat sekitar bantaran sungai.

Hal ini penting mengingat proyek berlangsung di area padat permukiman yang rentan terdampak apabila terjadi insiden.

Baca Juga: Empat Kali Terendam dalam Sebulan, Ratusan KK di Gang Mawar Kian Lelah Hadapi Banjir 2,5 Meter

Di sisi lain, normalisasi ini bertujuan meningkatkan kapasitas sungai menjadi desain Q25 atau mampu menampung debit banjir dengan periode ulang 25 tahunan.

Dengan kapasitas tersebut, risiko banjir dapat ditekan, meski tidak sepenuhnya dihilangkan jika curah hujan melampaui kapasitas desain.

Pemerintah menilai pekerjaan yang telah rampung mulai menunjukkan dampak positif berupa penurunan tinggi muka air dan berkurangnya durasi genangan di sejumlah kawasan.

Baca Juga: Hujan Ekstrem Rendam Permukiman, BPBD Bekasi Lakukan Monitoring Intensif dan Penyedotan Air

Namun, percepatan penyelesaian paket-paket tersisa tetap menjadi prioritas agar sistem pengendalian banjir semakin optimal.

Di tengah dinamika cuaca yang kian ekstrem akibat perubahan iklim, proyek normalisasi Kali Bekasi menjadi ujian ketahanan infrastruktur sekaligus manajemen risiko konstruksi.

Debit tinggi memang memperlambat pekerjaan, tetapi melalui strategi teknis seperti kistdam dan disiplin penerapan SMKK, proyek tetap berjalan dengan prinsip kehati-hatian.

Pemerintah berharap sinergi lintas lembaga serta percepatan penyelesaian segmen yang tersisa mampu memperkuat daya dukung sungai, sehingga kawasan Bodebek tidak lagi menjadi langganan banjir setiap musim hujan tiba.***