POJOKSATU.id, KOTA BEKASI - Bripka Madih menjadi sosok yang diperbincangkan karena membongkar dugaan aksi penyidik yang meminta sejumlah uang kepadanya dan hadiah tanah padahal dirinya juga merupakan polisi.
Hal itu disampaikan berita Madih saat dia menuntut keadilan tentang tanahnya yang diduga dicopot oleh pengembang perumahan di Kelurahan Jatiwarna, Kecamatan Pondokmelati.
”Karena, siapa yang paling mungkin mengetahui adanya penyimpangan oleh personel polisi, kalau bukan sesama personel polisi sendiri,” ucap Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri.
Reza mengatakan untuk menjadi seorang whistleblower tidak mudah karena ada saja kekhawatiran akan serangan balik atau pembalasan dari lembaga apabila seseorang membongkar skandal internal.
BACA JUGA: Bripka Madih akan Dipertemukan dengan Penyidik yang Disebut Minta ‘Pelicin’
”Untuk menemukan perbandingannya, coba cek data Propam Polri. Dari seluruh personel yang dijatuhi sanksi karena melakukan penyimpangan, berapa banyak yang kasusnya bermula dari laporan sesama personel Polri? Perkiraan saya, amat-sangat sedikit. Bahkan mungkin tidak ada,” papar Reza.
Whistleblower, lanjut dia, juga acap dinarasikan sebagai pekerja yang buruk karena dianggap mengungkap penyimpangan sebagai cara untuk menutup-nutupi kesalahannya,” tambah Reza.
Padahal, menurut dia, hasil studi justru berbeda. Kebanyakan whistleblower justru punya potensi kerja yang baik dan komitmen yang tinggi pada organisasi.
Kelemahan mereka cuma satu yakni menolak ikut arus, menentang kode senyap, yang kadung marak di dalam organisasi.
”Kasus yang dilaporkan Bripka Madih, karena sudah meledak di medsos, boleh jadi besok akan tuntas tertangani," katanya.
"Tapi bagaimana dengan nasib Madih? Seberapa jauh dia sanggup terus bekerja sebagai personel polisi? Dan selama apa pula satuan wilayah masih betah mempertahankan duri dalam daging itu?” tutur Reza.
BACA JUGA: Bripka Madih akan Dipertemukan dengan Penyidik yang Disebut Minta ‘Pelicin’
Menurut Reza, tanpa tes segala macam, Eliezer dan Mahdi sudah menunjukkan secara nyata tentang adanya personel polisi yang kendati berpangkat rendah, namun lebih mengedepankan ketaatan pada sumpah jabatan ketimbang kesetiakawanan pada subkultur menyimpang.
Kedua, apa yang sesungguhnya tengah berlangsung pada organisasi kepolisian sampai-sampai ada personel yang buka suara sedemikian memalukan?
”Studi menemukan, perilaku whistleblowing berhubungan dengan tiga pola kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan transformasional yang mendorong anggota dan sistem untuk berubah," katanya.
"Kedua, kepemimpinan lassez-faire alias pasif, membiarkan, dan cenderung menghindari tanggung jawab. Ketiga, kepemimpinan otentik, pimpinan menjadikan dirinya sebagai role model atas segala nilai kebaikan yang ingin dia suburkan,” papar Reza.
”Silakan Polri evaluasi sendiri, saat ini pola kepemimpinan apa yang sedang berlangsung di internalnya. Di situlah akan diperoleh jawaban mengapa Eliezer dan Madih tiba-tiba muncul meniup peluit mereka dengan senyaring-nyaringnya,” demikian kata Reza.
Berdasarkan informasi teranyar, Bripka Madih mengundurkan diri sebagai anggota Polri. (Jawapos)




