BEKASI.POJOKSATU.id – Tren kasus kusta di Kabupaten Bekasi terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, tercatat 245 kasus pada 2022, naik menjadi 334 kasus pada 2023.

Meski sedikit menurun pada 2024 menjadi 306 kasus, jumlah ini tetap menempatkan Kabupaten Bekasi sebagai wilayah dengan kasus kusta tertinggi di Jawa Barat selama dua tahun berturut-turut. Hingga Juli 2025, tercatat 121 kasus, termasuk 6 kasus pada anak-anak dan 3 kasus dengan tingkat kecacatan level II.

Sejumlah desa masih menjadi kantong penyebaran, seperti Desa Sirnajaya (17 kasus), Desa Sukatenang (8 kasus), Desa Sukaindah (7 kasus), Setu (10 kasus), dan beberapa wilayah lain seperti Cikarang, Cibarusah, Sriamur, Danau Indah, dan Jatimulya. Sementara itu, tingkat keberhasilan pengobatan per Juli 2025 mencapai 67 kasus.

Baca Juga: Burung Blekok Masuk dalam Logo Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke-75, Berikut Faktanya

Tingginya angka kasus ini mendorong Kementerian Kesehatan RI melakukan intervensi langsung di wilayah Kabupaten Bekasi, dengan menyalurkan obat-obatan serta melakukan penyuluhan kepada tenaga medis dan masyarakat. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut langkah ini penting untuk menghentikan rantai penularan.

“Angkanya tinggi tidak apa-apa, karena begitu ditemukan, langsung diberi obat dan sembuh. Keluarganya juga diberi obat agar tidak tertular. Itu yang akan menurunkan kusta,” ujar Budi saat meninjau wilayah di Serang Baru, Rabu, 23 Juli 2025.

Ia menjelaskan bahwa kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, mirip dengan bakteri penyebab TBC, dan penularannya bisa dicegah dengan deteksi dini serta pengobatan segera.

Bupati Bekasi, Ade Kuswara Kunang, menyambut baik langkah Kemenkes. Ia menekankan pentingnya edukasi agar masyarakat tidak lagi menganggap kusta sebagai penyakit yang menakutkan atau memalukan.

“Kalau cepat diinfokan, kita bisa langsung menanggulangi. Penderita pun jadi tidak takut atau malu untuk melapor,” jelas Ade.

Pemerintah Kabupaten Bekasi berkomitmen untuk memperluas edukasi melalui sosialisasi ke masyarakat, termasuk di sekolah-sekolah, serta mengimbau warga untuk menjaga kebersihan lingkungan guna mencegah penyebaran penyakit menular.***