Penulis : I Dewa Gede Sayang Adi Yadnya

Warga Kota Bekasi, Asesor Kompetensi Hipnoterapi BNSP RI, Kabid Kemitraan DPP PKHI

 

Opini : Bayangkan Anda sedang bersiap untuk perayaan besar. Kostum telah disiapkan, tarian dilatih berulang kali, antusiasme membuncah. Tiba-tiba, dari ribuan kilometer jauhnya, datang kabar: lebih dari 860 jiwa melayang, tersapu banjir bandang di Sumatera. Dalam sekejap, perayaan yang ditunggu-tunggu terasa tidak pada tempatnya.

Pemerintah Kota Bekasi memutuskan membatalkan Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) yang dijadwalkan hari ini Minggu 7 Desember 2025, sebagai bentuk kepedulian terhadap tragedi banjir Sumatera. Keputusan sederhana di permukaan, namun sarat makna mendalam.

Kesadaran Kolektif yang Melampaui Batas Geografis Sebagai hipnoterapis profesional anggota Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia (PKHI), saya memahami konsep 'kesadaran kolektif' ruang di mana emosi dan nilai bersama terjalin menjadi kesatuan yang sangat terasa. Pembatalan PNBK bukan sekadar keputusan administratif, melainkan momen kebangkitan kesadaran kolektif bangsa yang berbisik lembut: 'Kita adalah satu.'

Tutup mata sejenak. Bayangkan Anda seorang ibu di Aceh Tamiang yang kehilangan rumah dan anak. Sementara ratusan kilometer jauhnya, terdengar musik perayaan dan tawa riang festival budaya. Rasakan sakitnya? Inilah 'empati kognitif', kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami bahwa kebahagiaan kita bisa menjadi pisau yang menyayat hati mereka.

Kekuatan Trance Emosional dalam Membangun Solidaritas
Dalam hipnoterapi, 'trance' adalah kondisi kesadaran yang lebih fokus dan reseptif. Ketika bencana Sumatera menghantam dengan 860-an korban meninggal dan 520 lebih dinyatakan hilang, seluruh bangsa masuk dalam 'trance kolektif'. Video kehancuran, tangisan anak yatim, wajah lelah relawan, semuanya menciptakan koneksi emosional yang kuat. Ini bukan kelemahan, justru kekuatan yang membawa kita pada kesadaran lebih tinggi: ada hal lebih penting dari sekadar perayaan.

Mendengarkan Bisikan Hati: Dari 'Rasa' Menuju Tindakan Masyarakat Jawa Barat mengenal 'rasa', kepekaan jiwa yang mendalam, kemampuan menangkap getaran emosional yang tak terucap.

Wali Kota Tri Adhianto menunjukkan kemampuan mengakses 'inner wisdom' ini. Dia tidak hanya berpikir dengan logika ekonomi atau politik, tetapi mendengar bisikan hati: 'Ini waktunya berdiri bersama mereka yang berduka.'

Inilah 'reframing' dalam hipnoterapi, mengubah perspektif sehingga makna berubah. 'Kehilangan perayaan' menjadi 'pengorbanan bermakna.' Para pelaku seni, pedagang, panitia yang kecewa, maka kekecewaan mereka bertransformasi menjadi kontribusi pada kebaikan lebih besar, persembahan bagi yang berduka.

Gotong Royong: Program Mental Bangsa Indonesia Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Bekasi, mengatakan: 'Kekuatan kita itu gotong royong.' Ini adalah 'sugesti positif' yang ditanamkan ke alam bawah sadar kolektif. Gotong royong bukan sekadar tradisi, tetapi program mental terinstal dalam jiwa bangsa selama berabad-abad. Ketika diaktifkan, kita tidak lagi berpikir 'aku' tetapi 'kita', tidak lagi 'kepentinganku' tetapi 'kepentingan bersama.'

Penyembuhan Melalui Koneksi: Tidak Ada yang Sendirian Dalam hipnoterapi, ada konsep 'healing through connection', yaitu penyembuhan melalui koneksi. Trauma terasa berat karena kita merasa sendirian. Bayangkan seorang ayah di Tapanuli Tengah yang kehilangan seluruh keluarga. Ketika mendengar festival di Bekasi dibatalkan sebagai bentuk kepedulian, tiba-tiba dia tidak sendirian lagi. Ada saudara di ujung pulau lain yang turut berduka. Dalam koneksi itu, ada percikan harapan di tengah kegelapan duka.

Dari Simbolik Menuju Substantif: Waktunya Bertindak Nyata Namun, kita harus jujur menghadapi 'shadow', yaitu sisi gelap yang tidak nyaman. Kritik muncul: 'Apakah pembatalan ini benar-benar membantu? Bukankah ini hanya solidaritas simbolik?' Pertanyaan valid dan penting. Karena empati sejati bukan hanya soal perasaan, tetapi juga tindakan nyata.

Pembatalan acara adalah langkah pertama, bentuk pengakuan emosional dan penghormatan pada kesedihan. Tetapi tidak boleh berhenti di situ. Harus ada langkah kedua, ketiga, dan seterusnya: penggalangan dana, pengiriman bantuan, dukungan jangka panjang. Empati tanpa tindakan konkret hanyalah ilusi yang menenangkan diri sendiri.

Mari Bersama Wujudkan Empati dalam Tindakan Nyata Inilah saatnya kita semua bertindak. Pembatalan PNBK adalah awal, bukan akhir. Saudara-saudara kita di Sumatera membutuhkan bantuan konkret: makanan, air bersih, tempat tinggal sementara, obat-obatan, dan modal untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Anda mungkin berpikir: 'Saya hanya orang biasa, apa yang bisa saya lakukan?' Percayalah, setiap tindakan kecil bermakna besar. Donasi Rp 10.000, Rp 20.000, atau Rp 50.000 dari Anda, jika dikumpulkan bersama jutaan orang Indonesia lainnya, akan menjadi tsunami kebaikan yang mampu memulihkan kehidupan.

Jangan menunda. Jangan berpikir 'nanti saja' atau 'ada orang lain yang lebih mampu.' Waktu terus berjalan, dan setiap hari keterlambatan berarti penderitaan yang berkepanjangan bagi korban. Salurkan donasi Anda melalui lembaga terpercaya. Yang penting: bertindaklah sekarang.

Jika tidak mampu berdonasi materi, Anda bisa menjadi relawan virtual: sebarkan informasi penggalangan dana, ajak teman dan keluarga untuk berpartisipasi, kirim doa dan dukungan moral. Setiap bentuk kontribusi bernilai. Karena sejatinya, kekuatan bangsa ini terletak pada jutaan tangan kecil yang bersatu, jutaan hati yang berdenyut serentak untuk sesama.

Menyatukan Kepala dan Hati: Jalan Menuju Perubahan Dalam hipnoterapi, ada tahap 'integrasi', menyatukan pemahaman rasional dengan perasaan emosional. Secara rasional, acara di Bekasi tidak berhubungan langsung dengan bencana di Sumatera. Tetapi secara emosional, hati berbicara dengan bahasa simbol, bahasa nilai, bahasa kemanusiaan. Keputusan bijaksana adalah yang mengintegrasikan keduanya: mengakui logika tanpa mengabaikan hati.

Sugesti untuk Masa Depan: Dari Empati Menuju Aksi Berkelanjutan
Mari tutup mata sejenak dan bayangkan masa depan. Dalam hipnoterapi, kita menanamkan 'post-hypnotic suggestion', sugesti yang teraktivasi di masa mendatang. Sugesti saya untuk bangsa ini: Setiap kali ada bencana, setiap kali ada penderitaan, biarlah kita tidak hanya mengirim doa, tetapi juga tindakan nyata. Biarlah empati menjadi jembatan dari duka menuju harapan, dari kesedihan menuju pemulihan.

Pembatalan PNBK bukan akhir cerita, melainkan awal narasi baru, narasi tentang bangsa yang tidak hanya pandai merayakan, tetapi juga pandai berbela rasa. Bangsa yang kekuatannya bukan pada kemegahan festival, tetapi pada kedalaman empati. Bangsa yang memahami bahwa kadang-kadang, tindakan terbesar adalah kesediaan untuk tidak bertindak, untuk memberi ruang bagi kesedihan.

Ketika PNBK akhirnya digelar di masa mendatang, tentunya dengan situasi lebih baik, hati lebih lapang, dan perayaan itu akan memiliki kedalaman baru. Bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga perayaan kemanusiaan. Karena kita telah belajar: budaya sejati bukan hanya tentang tarian dan musik, tetapi juga tentang kepedulian dan empati.

Sekarang, tarik napas dalam-dalam. Rasakan udara mengisi paru-paru. Saat menghembuskannya, lepaskan ego, lepaskan kepentingan pribadi, lepaskan pemikiran sempit tentang 'aku' dan 'mereka.' Karena dalam napas ini, kita semua adalah satu. Dalam detak jantung ini, kita semua terhubung erat. Dalam kemanusiaan ini, kita semua adalah saudara.

Pembatalan PNBK adalah cermin jiwa bangsa. Ketika menatap cermin itu dengan jujur, kita melihat bukan hanya refleksi kesempurnaan, tetapi juga ruang untuk tumbuh. Kita melihat bukan hanya kekuatan empati, tetapi juga panggilan untuk tindakan nyata.

Biarlah momen ini menjadi titik balik. Biarlah keputusan Kota Bekasi menginspirasi seluruh bangsa untuk lebih peka, lebih peduli, lebih terhubung.

Karena pada akhirnya, kekuatan sejati bangsa bukan diukur dari kemegahan perayaan, tetapi dari kedalaman kepedulian. Bukan dari tinggi gedung, tetapi dari luas empati. Bukan dari keras teriakan gembira, tetapi dari tulus keheningan duka. Ketika hati berbicara, dia tidak menggunakan argumen logis. Hati berbicara dengan bisikan lembut yang hanya bisa didengar oleh mereka yang mau mendengarkan. Dan hari ini, Minggu 7 Desember 2025, Kota Bekasi mendengarkan bisikan itu. Mereka mendengar, merasakan, dan bertindak bukan dengan kemegahan, tetapi dengan kerendahan hati.

Dan dalam keheningan itulah, kita menemukan kebenaran paling dalam: kita adalah bangsa yang hatinya masih bisa mendengar, yang jiwanya masih bisa merasakan, yang kemanusiaannya masih bisa menang atas ego. Dan itu adalah harapan terbesar kita untuk masa depan.

Artikel ini merupakan opini penulis.