BEKASI.POJOKSATU.id -  Pemerintah mulai mengevaluasi pengembangan jalur double-double track (DDT) pascakecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan dan kapasitas transportasi berbasis rel di wilayah perkotaan.

Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan pengembangan DDT menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan pemerintah.

“Yang jelas kita sedang memikirkan pengembangan DDT tersebut,” kata AHY, Rabu 13 Mei 2026.

Baca Juga: Kekurangan Tenaga Pengajar di Kota Bekasi Masih Bergantung pada Guru Honorer

Menurutnya, evaluasi sistem perkeretaapian akan dipimpin Kementerian Perhubungan Republik Indonesia bersama PT Kereta Api Indonesia.

Selain pengembangan jalur DDT, pemerintah juga mempertimbangkan pembangunan lintasan baru hingga reaktivasi jalur kereta yang selama ini tidak lagi beroperasi.

AHY mengakui pengembangan sistem transportasi rel membutuhkan waktu karena mencakup pembenahan jalur eksisting serta pembangunan infrastruktur baru.

“Tetapi tentu butuh waktu untuk bisa merampungkan rencana besar pengembangan kereta, baik eksisting maupun pengembangan baru, dan reaktivasi dari rel-rel yang selama ini tidak berfungsi,” ujarnya.

Sementara itu, Andi Iwan Darmawan Aras mendorong percepatan pemisahan jalur operasional KRL dan kereta api antarkota usai insiden di Bekasi Timur.

Ia menilai proyek DDT Jakarta–Cikarang harus menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan kapasitas dan keselamatan perjalanan kereta.

Baca Juga: Tri Adhianto Pastikan Korban Kecelakaan Mobil SPPG di Bekasi Dapat Penanganan Maksimal

“Pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. Penyelesaian proyek DDT Jakarta–Cikarang tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan,” kata Andi.

Menurutnya, kecelakaan di Bekasi Timur menunjukkan tingginya tekanan terhadap sistem rel perkotaan yang saat ini melayani berbagai jenis perjalanan kereta dalam satu jalur lintasan.

Karena itu, DPR meminta evaluasi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sistem perencanaan, pemantauan perjalanan kereta, hingga penanganan gangguan operasional.

Selain jalur rel, DPR juga menyoroti masih banyaknya perlintasan sebidang yang dinilai rawan menimbulkan kecelakaan.

“Perlintasan sebidang harus segera dibenahi. Persoalan seperti ini masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ujarnya.

Baca Juga: Polsek Bekasi Selatan Sambangi Warga Pekayon Jaya, Ajak Aktifkan Siskamling

Kecelakaan di Bekasi Timur kembali memunculkan dorongan percepatan proyek DDT Jakarta–Cikarang yang dirancang untuk memisahkan jalur KRL dengan kereta jarak jauh dan logistik.

Pemisahan jalur tersebut dinilai dapat mengurangi kepadatan lintasan sekaligus meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di wilayah Jabodetabek.***