BEKASI.POJOKSATU.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi menegaskan bahwa siswa yang menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) mayoritas berasal dari keluarga berpenghasilan rendah dan merupakan warga Kota Bekasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Alexander Zulkarnain, menyebutkan bahwa saat ini jumlah siswa yang tercatat di sekolah tersebut mencapai 180 orang.

“Dari total 180 siswa, sebanyak 136 orang berdomisili di Kota Bekasi. Sisanya, 44 siswa berasal dari wilayah Kabupaten Bekasi,” ujar Alexander saat dikonfirmasi, Selasa 22 Juli 2025.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Tolak Rencana Merger SDN Margahayu IX, Minta Segera Renovasi

Ia menjelaskan, para peserta didik di Sekolah Rakyat umumnya berasal dari kelompok rumah tangga dengan pendapatan terendah, khususnya kategori desil 1 dan 2 atau 10 persen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.

Alexander memastikan, proses penerimaan siswa dilakukan secara ketat dan melalui verifikasi menyeluruh oleh pemerintah.

Meskipun terdapat beberapa pendaftar dari kategori desil 3 dan 4, hasil verifikasi tetap menunjukkan bahwa mereka layak menerima layanan pendidikan gratis karena masuk kategori miskin.

Baca Juga: Wali Kota Bekasi Resmikan Koperasi Merah Putih untuk Perkuat Ekonomi Kerakyatan

“Ada memang yang berasal dari desil 3 dan 4, tapi setelah diverifikasi, mereka memang miskin. Mereka mendaftar secara mandiri dan diverifikasi oleh pemerintah,” ungkapnya.

Menurut Alexander, keberadaan Sekolah Rakyat adalah strategi Pemkot Bekasi dalam mendorong pemerataan akses pendidikan, khususnya bagi masyarakat miskin. Program ini juga dianggap sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap keberlanjutan pendidikan anak-anak dari keluarga tidak mampu.

“Ini bagian dari komitmen Pemkot Bekasi untuk menjamin akses pendidikan yang adil dan berkualitas,” tandasnya.

Pemkot Bekasi juga berencana untuk memperluas jangkauan program ini dan meningkatkan kualitas layanan pendidikan yang diberikan di Sekolah Rakyat. (adv)***