POJOKSATU.id, KOTA BEKASI - Jika banjir biasanya surut ketika debit air kali sudah berkurang atau hujan tidak turun lagi, berbeda dengan kondisi di Gang Cue, tepatnya di Kampung Bekasi Bulak, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur.


Banjir di permukiman warga yang terletak di belakang Pasar Baru Bekasi ini selalu tergenang air atau bisa dibilang selalu kebanjiran.


Air berwarna cokelat, ada juga yang hitam pekat. Air yang disebut belakangan itu menimbulkan bau tidak sedap. Banyak juga sampah plastik di sekitar lokasi banjir.


Jika diukur secara kira-kira, ketinggian banjir mencapai 40 sampai 100 sentimeter. Itu di RT 2 dan RT 6, RW 01.


Warga yang tak punya pilihan lain terpaksa tinggal berdampingan dengan banjir tersebut.


BACA JUGA: Jadi Korban Banjir, Warga Muaragembong Enggan Mengungsi


Kaman, 59 tahun, warga RT 2 RW 1, mengingat banjir besar tahun 2020 merupakan awal mula perkampungannya terendam setinggi 1 meter lebih.


Sejak saat itu, banjir selalu saja terjadi, bahkan titik terendah air surut masih dapat dibilang banjir, yaitu 20 sampai 40 sentimeter.




Salah satu rumah warga RT 2 RW 1, Kampung Bekasi Bulak, Bekasi Timur, yang terendam banjir. Tampak air kehitaman, Jumat, 3 Maret 2023. Foto: Pojoksatu.id/Adika F Utomo

"Di dalam rumah juga banjir, kemarin beberapa masih ada (warga) yang bertahan tapi sekarang semua udah ngungsi ada yang ngontrak," ungkap dia, Jumat, 3 Maret 2023.


Itu di RT 2, berbeda dengan di RT 6 RW 1. Banjir yang enggan menyurut itu sudah terjadi sejak Oktober 2022.


"Ini banjir kurang lebih dari tahun Oktober 2022 sampai sekarang Maret 2023," kata ketua RT setempat Kelik Indarto.


Kelik menuturkan, banjir surut hanya semata kaki. Jika hujan turun air akan naik hingga mengenang setinggi pinggang orang dewasa.


"Di RT saya ada 22 KK, sebagian masih ada yang tinggal di sini sebagian ditinggal ini, pada ngontrak di tempat lain," demikian kata dia. (Adika F Utomo)