BEKASI.POJOKSATU.id - Program pemerintah pusat terkait wajib belajar 12 tahun, ditambah satu tahun prasekolah terus diperkuat. Di Kota Bekasi, pendidikan non-formal melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) menjadi salah satu andalan untuk mendukung pemerataan akses pendidikan.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang PAUD Dikmas Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Nelwan Nelly Sampe, saat menghadiri pembukaan Sekolah Bahasa di Jalan Pondok Hijau Permai, Rawalumbu, Kota Bekasi, Sabtu 31 Januari 2026.

Nelwan menjelaskan, saat ini terdapat 78 PKBM yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Bekasi. PKBM tersebut melayani pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C, sehingga masyarakat yang belum menyelesaikan pendidikan formal tetap memiliki kesempatan melanjutkan sekolah.

“Partisipasi masyarakat terhadap pendidikan non-formal di Kota Bekasi cukup tinggi. Saat ini ada 78 PKBM yang melayani Paket A, B, dan C,” ujar Nelwan, Minggu 1 Februari 2026.

Nelwan menilai keberadaan PKBM menjadi bagian penting dalam mendukung kebijakan wajib belajar, sekaligus membantu masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pendidikan formal.

Baca Juga : Bukan Jakarta Lagi! Bekasi Jadi Magnet Baru Pusat Perbelanjaan

Selain PKBM, Nelwan juga menyoroti peran lembaga kursus swasta yang ikut mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kota Bekasi. Ia mendorong lembaga kursus agar tetap stabil secara operasional dan tertib dalam administrasi perizinan.

“Kami sangat mendorong, yang terutama mereka harus stabil ya, diberi izin,” ungkap dia.

Menurut Nelwan, stabilitas lembaga pendidikan non-formal menjadi faktor penting agar layanan pendidikan yang diberikan kepada masyarakat berjalan berkelanjutan dan sesuai aturan.

Sementara itu, CEO Sekolah Bahasa, Audy Laksamana, mengatakan lembaga yang baru dibuka tersebut menawarkan pelatihan sejumlah bahasa asing, mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, Korea, Jepang, hingga Jerman.

Baca Juga : Berkedok Toko Kosmetik, 21 Pengedar Obat Keras di Bekasi Ditangkap

“Kami mengharapkan mereka (siswa) akan percaya diri untuk ngomong bahasa Inggris, tapi yang kedua tentu saja level bahasa Inggris. Jadi kita mempunyai level dari mulai A1 sampai B2,” kata Audy.

Ia menambahkan, Sekolah Bahasa juga menghadirkan metode pembelajaran yang lebih interaktif dengan mendatangkan penutur asli (native speaker) setiap dua minggu sekali untuk melatih kemampuan percakapan siswa.

Selain itu, para siswa mendapatkan akses platform digital serta tugas harian melalui WhatsApp maupun Telegram, sehingga mereka tetap terpapar bahasa asing selama lima hari dalam sepekan.

Dengan dukungan pendidikan non-formal seperti PKBM dan lembaga kursus, pemerintah daerah berharap program wajib belajar dapat berjalan lebih optimal serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat di Kota Bekasi.***