BEKASI.POJOKSATU.id – RS Siloam Sentosa Bekasi Timur didesak untuk segera membenahi kualitas pelayanannya, menyusul banyaknya keluhan masyarakat dan kasus terbaru seorang pasien demam berdarah dengue (DBD) yang meninggal dunia akibat dugaan keterlambatan penanganan.

Desakan tegas disampaikan langsung oleh Camat Bekasi Timur, Fitri Widyati, saat menjenguk keluarga pasien di RW 19 Kelurahan Arenjaya, yang sebelumnya tidak mendapat pelayanan maksimal dari pihak rumah sakit.

“Saya menerima banyak laporan dari warga mengenai buruknya pelayanan di RS ini. Mulai dari hasil laboratorium yang tidak transparan, kurangnya edukasi dari petugas, hingga kasus rujuk lepas,” tegas Fitri.

Ia menambahkan, jika keluhan warga terus terjadi, pihak kecamatan tidak akan ragu untuk mengambil langkah tegas.

Baca Juga: Turnamen Tenis Meja Meriahkan Porseni Desa Tamanrahayu, RW-RW Berlaga Sportif

Lurah Arenjaya, Pra Fitria Angelia, turut menyuarakan kekhawatiran serupa. Meski secara administratif rumah sakit berada di wilayah Kelurahan Durenjaya, namun banyak warga Arenjaya yang bergantung pada layanan RS Siloam Sentosa sebagai fasilitas terdekat.

“Banyak warga mengeluh karena merasa diperlakukan berbeda, apalagi yang menggunakan layanan BPJS. Padahal mereka juga rutin membayar iuran,” kata Fitria. Ia berharap kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Quality Control RS Siloam Sentosa, Herta, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti semua masukan yang diterima.

Baca Juga: Perlintasan KA di Dekat Stasiun Bekasi Ditutup Malam Hari Selama Empat Hari

“Ini menjadi bahan evaluasi penting bagi kami. Semua masukan akan kami sampaikan kepada manajemen untuk perbaikan pelayanan,” ujar Herta.

Kasus pasien DBD yang meninggal menjadi sorotan utama. Pasien awalnya diperiksa dan dinyatakan hanya mengalami demam biasa, dengan hasil laboratorium yang dianggap normal.

Namun, tiga hari kemudian, saat pasien kembali berobat, hasil lab menunjukkan trombosit menurun drastis hingga 27 ribu, menandakan kondisi kritis akibat DBD.

Alih-alih langsung ditangani atau dirujuk secara resmi, pihak rumah sakit hanya menyarankan rujuk lepas tanpa pendampingan, dan meminta keluarga mencari ambulans sendiri. Sayangnya, pasien meninggal dunia di RSUD Kota Bekasi pada hari yang sama.

Baca Juga: BPBD Kota Bekasi Imbau Warga Waspadai Banjir Susulan Akibat Cuaca Ekstrem

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi, Fikri Firdaus, menegaskan bahwa praktik rujuk lepas tanpa konfirmasi tidak dibenarkan.

“Sejak awal, kami sudah mewanti-wanti semua rumah sakit agar tidak melakukan rujuk lepas dalam kondisi apa pun. Ini soal keselamatan pasien,” ujarnya.

Pihak Dinkes disebut tengah menyoroti serius kasus tersebut dan akan mengevaluasi prosedur pelayanan di RS Siloam Sentosa Bekasi Timur.***