BEKASI.POJOKSATU.ID - Keberadaan polder penampungan air di Perumahan Bumi Fajar Indah RW 20, Kelurahan Jakasampurna, Kecamatan Bekasi Barat, kembali menjadi sorotan warga setelah kawasan tersebut kembali terendam banjir.
Polder yang dibangun sejak 2019 dan dilanjutkan pada 2020 itu dinilai belum mampu memberikan solusi nyata terhadap persoalan banjir yang rutin terjadi setiap musim hujan.
Warga menilai permasalahan utama bukan semata pada fungsi polder, melainkan pada perencanaan dan penempatan lokasi yang dianggap kurang tepat.
Baca Juga: Tak Capai Target 2025, Bapenda Bekasi Benahi Strategi Pajak 2026
Yongki (54), salah satu warga RW 20, menyebut secara konsep polder memang berfungsi menampung kelebihan air sebelum dialirkan ke sungai.
Namun, kondisi geografis perumahan yang berada di area cekungan membuat polder tidak bekerja maksimal.
"Harusnya polder ini ada di ujung, mungkin ke arah Kranji, karena aliran air itu semuanya ke sana. Sekarang bisa dilihat, ketinggian air di polder hampir sama dengan air di jalan," ujar Yongki, Minggu 18 Januari 2026.
Baca Juga: Lebih dari 36 Ribu Anak Tak Sekolah di Bekasi Masuk Radar Program Gizi Nasional
Ia menambahkan, saat hujan deras mengguyur, air yang seharusnya tertampung justru stagnan karena elevasi polder sejajar dengan genangan di permukiman.
Kondisi tersebut membuat warga merasa kehadiran polder belum memberikan perlindungan signifikan terhadap banjir.
Selain persoalan lokasi, warga juga menyoroti kondisi sungai di sekitar perumahan yang mengalami pendangkalan.
Baca Juga: Kota Bekasi Diterjang Banjir, BPBD Laporkan 1 Korban Meninggal Terseret Arus
Sungai yang dangkal membuat air mudah meluap ke jalan dan rumah warga, meskipun polder telah tersedia.
"Kalau sungainya dangkal, air dari kali melimpah ke jalan. Polder jadi tidak maksimal fungsinya. Buktinya, ada polder tapi kita tetap banjir," kata Yongki.
Polder yang berdiri di atas lahan fasilitas sosial dan fasilitas umum RW 20 itu memiliki luas sekitar 4.500 meter persegi dari total lahan fasos-fasum 7.000 meter persegi.
Di area tersebut juga terdapat kantor RW, bank sampah, dan taman warga yang turut terdampak genangan.
Ketua RW 20 Bumi Fajar Indah, Satrio, menjelaskan banjir terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak sore hingga dini hari, sehingga debit air sungai meningkat drastis.
"Biasanya hujan satu jam saja sungai sudah meluap dan turun ke jalan. Ini hujan dari sore sampai sekitar jam tiga dini hari, jadi banjir tidak terhindarkan," jelasnya.
Menurut Satrio, ketinggian air banjir berkisar antara 40 hingga 60 sentimeter dan berdampak pada sekitar 200 kepala keluarga di lima RT.
Meski tidak ada warga yang dievakuasi, banjir tersebut tetap mengganggu aktivitas dan menimbulkan kerugian.
Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perencanaan polder, termasuk normalisasi sungai dan penanganan wilayah hulu.
Mereka menilai solusi banjir tidak cukup hanya dengan membangun polder, tetapi harus dibarengi perencanaan tata air yang komprehensif agar banjir tidak terus menjadi masalah tahunan di Bumi Fajar Indah.***




