BEKASI.POJOKSATU.ID - Kasus superflu atau influenza A (H3N2) mulai terdeteksi di Indonesia pada awal 2026.

Kementerian Kesehatan memastikan masyarakat tidak perlu panik, namun diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi kelompok rentan.

Penyakit ini diketahui masuk ke Indonesia sejak 25 Desember 2025 dan hingga akhir tahun tercatat puluhan kasus di berbagai wilayah.

Baca Juga: Catat Tanggalnya! Isra Miraj 2026 Libur Nasional, Jumat Berkah di Awal Tahun

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati, mengungkapkan hingga akhir Desember 2025 terdapat 62 kasus superflu yang tersebar di delapan provinsi.

Tiga wilayah dengan temuan terbanyak yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

“Ketiga wilayah ini menjadi kontributor utama temuan super flu nasional berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium,” ujar Widyawati, dikutip Sabtu 3 Januari 2026.

Baca Juga: Superflu Merebak, Jawa Barat Masuk Zona Merah Temuan Kasus

Puluhan kasus tersebut teridentifikasi melalui pemantauan 88 sentinel influenza like illness (ILI) dan severe acute respiratory infections (SARI) yang tersebar di berbagai daerah.

Proses pelaporan dilakukan berjenjang melalui fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit rujukan.

Kemenkes menegaskan sistem surveilans nasional terus berjalan aktif untuk memantau perkembangan virus tersebut.

Baca Juga: Kontainer Mulai Terpasang, Wisata Air Kalimalang Bekasi Masuk Fase Awal Pembangunan

Widyawati menambahkan, berdasarkan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan situasi epidemiologi terkini, superflu tidak menunjukkan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan varian influenza lain yang sudah dikenal.

“Gejalanya umumnya seperti flu musiman, yakni demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan sakit kepala,” jelasnya.

Ia juga memastikan bahwa seluruh varian influenza A (H3N2) yang ditemukan merupakan varian yang telah lama dikenal secara global dan masih berada dalam pengawasan WHO.

Vaksin influenza yang tersedia saat ini dinilai tetap efektif untuk menurunkan risiko sakit berat, rawat inap, hingga kematian akibat infeksi H3N2.

Meski demikian, kalangan medis mengingatkan agar masyarakat tidak lengah. Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K), menyebut kelompok rentan harus menjadi perhatian utama.

Baca Juga: MBZ Dibanjiri Arus Balik, Pertanda Mesin Ekonomi Mulai Kembali Panas

“Superflu berisiko tinggi bagi balita, lansia, penderita penyakit kronis, pasien kanker, dan mereka yang menggunakan obat penekan imun,” katanya.

Menurut Nastiti, gejala superflu pada umumnya meliputi demam tinggi, menggigil, batuk, nyeri tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, hingga kelelahan berat.

Ia menyoroti karakter virus H3N2 yang mudah menular dan cepat bermutasi.

Baca Juga: Wisata Air Kalimalang Mulai Terlihat, Pemkot Bekasi Siapkan Lampu Hias dan Jalur Pejalan Kaki

“Virus ini dapat menyebabkan lonjakan kasus dan meningkatkan kebutuhan perawatan rumah sakit jika tidak diantisipasi,” ujarnya.

Pemerintah mengimbau masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat, menggunakan masker saat sakit, serta mempertimbangkan vaksinasi influenza, terutama bagi kelompok berisiko.

Kewaspadaan dinilai menjadi kunci utama agar superflu tidak berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih luas di awal 2026.***