BEKASI.POJOKSATU.id – Direktur Yayasan Grapiks Bekasi, Daniel Ramadhan, menilai besarnya jumlah pekerja seks di Kota Bekasi tidak lepas dari dua faktor utama: tingginya permintaan dari laki-laki dan kebutuhan ekonomi yang mendorong perempuan masuk ke dunia prostitusi.

“Selama dua hal ini tidak bisa kita kurangi, maka akan melimpahlah pekerja seks di Kota Bekasi karena demand-nya cukup banyak,” ujarnya.

Menurut Daniel, pekerja seks terdiri dari dua jenis: pekerja seks langsung dan tidak langsung. Kelompok kedua adalah perempuan yang memiliki pekerjaan tetap, namun sesekali menawarkan layanan seksual.

Baca Juga: Angka Infeksi HIV pada Pekerja Seks di Bekasi Rendah, Yayasan Grapiks Gencarkan Edukasi dan Pengawasan

Ia menilai lembaga keagamaan dan tokoh masyarakat harus lebih aktif menekan permintaan terhadap layanan seksual.

“Siapa yang punya tugas untuk mengurangi permintaan pekerja seks? Edukasi kepada para laki-laki harus masif. Bagaimana peran MUI, peran Kemenag, dan lembaga-lembaga lain? Mereka harus membina laki-laki ini agar tidak menciptakan demand,” kata Daniel.

Di sisi lain, kondisi ekonomi yang sulit membuat sebagian perempuan memilih menjadi LC atau open BO untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Daniel juga menyoroti kurangnya edukasi kesehatan reproduksi bagi remaja sebagai faktor pemicu tingginya risiko HIV/AIDS di masa depan.

Baca Juga: Disdik Kota Bekasi Terima 16 Smartboard untuk Percepat Transformasi Digital Pembelajaran

“Kita punya komisi penanggulangan AIDS, ada promkes di Dinas Kesehatan, ada Dinas Pendidikan.

Harusnya mereka punya program masif untuk memberikan edukasi kepada remaja,” tegasnya.
Menurutnya, pola asuh dan edukasi sejak dini menjadi kunci pencegahan.

“Bicara HIV, kita bicara hulunya: pola asuh dan edukasi sejak dini,” tutup Daniel.***