BEKASI.POJOKSATU.id – PT Kereta Api Indonesia (KAI) langsung bergerak cepat usai kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur beberapa waktu lalu.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengungkapkan pihaknya kini memperketat operasional perjalanan Kereta Jarak Jauh (KAJJ) di lintasan yang bersinggungan dengan jalur KRL, khususnya di wilayah Bekasi.
Menurut Bobby, ada dua langkah mitigasi yang langsung diterapkan KAI pasca insiden tersebut agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Langkah pertama yakni membatasi kecepatan Kereta Jarak Jauh saat melintas di jalur yang berhimpitan dengan lintasan KRL.
“Ini menjadi bagian dari short term mitigation plan yang langsung kami terapkan sehari setelah kejadian di Bekasi Timur,” kata Bobby, Jumat (22/5/2026).
Selain pembatasan kecepatan, KAI juga memberlakukan BLB atau Berhenti Luar Biasa bagi seluruh Kereta Jarak Jauh yang melintas di Stasiun Bekasi.
Kebijakan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi jalur benar-benar aman sebelum kereta kembali dijalankan.
“Setelah berhenti, petugas memastikan jalur bersih sampai blok 103T sehingga bisa memitigasi kemungkinan terjadinya insiden,” jelasnya.
Tak hanya fokus pada pengaturan operasional kereta, KAI juga mulai mempercepat pembenahan perlintasan sebidang yang dinilai masih rawan kecelakaan.
Berdasarkan rekomendasi Kementerian Perhubungan, terdapat 1.638 perlintasan sebidang di berbagai daerah yang perlu segera ditingkatkan aspek keselamatannya.
Baca Juga : Pembangunan Wisata Air Kalimalang Bekasi Molor, Grand Opening Diundur hingga Agustus
KAI pun mengaku telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah baik tingkat kota, kabupaten hingga provinsi terkait pemasangan maupun peningkatan palang pintu perlintasan.
“Kami berharap perbaikan ini bisa dilakukan secepat-cepatnya sebagai bentuk respons atas kejadian yang terjadi,” ujarnya.
Sementara itu, Kementerian Perhubungan memperkirakan kebutuhan anggaran untuk peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang mencapai Rp842,48 miliar.
Anggaran tersebut meliputi kebutuhan petugas penjaga lintasan sebesar Rp603,9 miliar, pembangunan pos jaga Rp158,1 miliar serta fasilitas mekanikal dan elektrikal senilai Rp60,9 miliar.
Diketahui, kecelakaan maut di Bekasi Timur bermula saat rangkaian KRL relasi Bekasi-Cikarang tertemper mobil di perlintasan sebidang JPL 85.
Akibat kejadian tersebut, KRL harus dievakuasi dan dijadikan Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena berhenti berdinas di luar jadwal reguler.
Tak lama berselang, petugas memberhentikan KRL lain dengan kode PLB 5568 yang menuju Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur.
Namun nahas, KA Argo Bromo Anggrek relasi Jakarta-Surabaya tidak sempat berhenti penuh hingga akhirnya terlibat insiden dengan rangkaian KRL yang sedang berhenti tersebut.***




