BEKASI.POJOKSATU.id – Forum Komunikasi RW (FKRW) Kelurahan Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, mendesak pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) untuk segera merealisasikan proyek pengendalian banjir Kali Jati dan Kali Rawatembaga melalui skema Land Acquisition and Resettlement Action Plan (LARAP).
Ketua FKRW Kayuringin Jaya, Yoyo Sutaryo, mengatakan bahwa banjir kiriman menjadi persoalan tahunan yang belum mendapat penanganan serius, terutama di 10 RW yang dihuni lebih dari 15 ribu jiwa.
“Air kiriman yang sangat besar selalu datang, tapi setelah itu tak ada tindakan nyata. Warga hanya bisa berharap. Kami sudah lelah, banjir terus datang, tapi solusi belum kunjung terealisasi,” kata Yoyo, Rabu, 23 Juli 2025.
Yoyo menjelaskan, warga sudah berulang kali melakukan audiensi dengan pemerintah daerah, hingga BBWSCC akhirnya turun tangan pada 2023. Saat itu disepakati proyek akan menangani aliran dari Kali Rawatembaga (Kali BSK) hingga Kali Jati dan Kali Bekasi, dengan pendanaan dari pemerintah pusat.
Namun, hingga pertengahan 2025, belum ada tanda-tanda dimulainya pekerjaan konstruksi secara menyeluruh. Penanganan parsial memang telah dilakukan menggunakan dana APBD dan pusat, namun dinilai belum menyelesaikan akar masalah banjir.
“Kami meminta Gubernur Jawa Barat untuk segera meneruskan permasalahan ini ke Kementerian PUPR, agar pengerjaan konstruksi tidak terus-menerus tertunda,” tegasnya.
FKRW juga telah mengirim surat resmi kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat dan Wali Kota Bekasi, dengan harapan proyek LARAP dapat masuk dalam prioritas pembangunan tahun 2025.
Sementara itu, Ketua RW 22 Kayuringin Jaya, Kris, menyampaikan bahwa pengerukan Kali Jati di sisi selatan dari arah Jembatan Wijaya belum tersentuh, meskipun sisi utara telah dikerjakan sebelumnya.
Baca Juga: Beras Oplosan Rugikan Konsumen, Agen Tradisional Merana: Omzet Anjlok hingga 50 Persen
“Pompa air di Kalimalang sudah terpasang, tapi limpahannya justru dialirkan ke Kayuringin. Kami sudah banjir, malah ditambah kiriman air dari Galaxy Pekayon. Seolah di sana tertawa, di sini menangis,” ujarnya.
Kris berharap aliran air dari wilayah lain tidak lagi dibelokkan ke permukiman warga Kayuringin, melainkan langsung dialirkan ke Kalimalang atau Kali Bekasi.
Ia juga menyoroti parahnya sedimentasi lumpur di Kali Jati serta aktivitas pembuangan limbah oleh pabrik tahu di sekitar bantaran kali yang memperburuk kondisi.
“Normalisasi harus segera dieksekusi. Sedimentasi dan limbah harus ditangani. Kami ingin solusi nyata, bukan janji bertahun-tahun,” tandasnya.***




