BEKASI.POJOKSATU.ID - Detik-detik mencekam penyiraman air keras terhadap seorang lansia berinisial TW (54) di Perumahan Bumi Sani Permai, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, mulai terungkap.
Peristiwa itu terjadi pada Senin 30 Maret 2026 sekitar pukul 04.50 WIB, saat korban hendak menuju musala untuk menunaikan salat subuh.
Seorang saksi mata, Rahmat (46), mengaku sempat berpapasan dengan dua orang yang diduga sebagai pelaku sesaat sebelum kejadian berlangsung.
Pertemuan itu terjadi di salah satu persimpangan jalan di dalam kompleks perumahan.
Baca Juga: Lonjakan Besar Saat Mudik, 3,5 Juta Kendaraan Tinggalkan Jakarta, Ini Strategi Korlantas Polri
“Pelaku berboncengan, menggunakan helm fullface hitam, kaca tertutup, pakai jaket warna hitam, motornya yang saya lihat menggunakan matic, warna putih gading,” ujar Rahmat, Selasa 31 Maret 2026.
Saat itu, Rahmat tengah berjalan menuju tempat ibadah. Ia melihat dua pria tersebut masuk ke area perumahan dengan penampilan yang tertutup rapat, sehingga menimbulkan kecurigaan.
“Saya sebenarnya udah curiga, kenapa masuk komplek perumahan kok pakai helm tertutup. Tapi karena azan sudah mau waktu salat, sudah mau dekat komat, saya nggak mikir panjang lagi,” ungkapnya.
Beberapa saat setelah berpapasan, kedua orang tersebut melaju ke arah berbeda.
Baca Juga: Kurangi Sampah dari Rumah, DKI Dorong Warga Pilah Sampah demi Ringankan Beban Bantargebang Bekasi
Rahmat pun melanjutkan langkahnya tanpa menyadari bahwa kejadian besar akan segera terjadi.
“Nah, kebetulan waktu itu saya arah ke kanan, dia (pelaku) sebelah kiri. Dia belok ke kiri, saya belok ke kanan. Setelah itu saya nggak tahu,” jelasnya.
Tak lama berselang, aksi penyiraman air keras terhadap korban terjadi.
TW yang saat itu berjalan seorang diri menuju musala tiba-tiba diserang oleh pelaku yang hingga kini masih dalam penyelidikan.
Korban mengalami luka bakar cukup serius akibat siraman zat berbahaya tersebut.
Polisi mencatat luka bakar mencapai sekitar 30 persen di beberapa bagian tubuh, seperti wajah, telinga, leher, dada, perut, dan bahu.
Pasca kejadian, korban langsung mendapatkan pertolongan dari warga sekitar dan keluarganya dengan menggunakan air mengalir sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
Sehari setelah kejadian, kondisi lokasi masih menyisakan jejak mengerikan.
Sisa zat kimia yang diduga digunakan pelaku masih bereaksi di lantai dan menimbulkan bau menyengat.
“Lantainya masih terasa panas saat diinjak, masih berbuih dan baunya sangat asam. Itu luar biasa,” tutur Rahmat.
Hingga kini, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan intensif dengan mengumpulkan bukti dan memeriksa saksi-saksi guna mengungkap identitas pelaku dalam kasus ini.***




