BEKASI.POJOKSATU.ID - Malam pergantian Tahun Baru 2026 kembali diingatkan sebagai momen rawan bagi remaja untuk terjerumus dalam berbagai aktivitas negatif dan berbahaya.
Guru Besar Universitas PTIQ Jakarta, Prof Dr Susanto, menegaskan bahwa euforia tahun baru kerap menjadi celah terjadinya perilaku menyimpang yang berisiko terhadap keselamatan dan masa depan anak.
Menurut Susanto, salah satu aktivitas paling sering terjadi saat malam tahun baru adalah konvoi kendaraan dan balap liar.
Baca Juga: Freelancer Serbu AI, Cara Baru Bikin About Me LinkedIn Lebih Menjual
Aksi ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga membahayakan keselamatan pelaku maupun pengguna jalan lainnya.
Dalam banyak kasus, balap liar kerap dipicu oleh dorongan adrenalin, pengaruh teman sebaya, serta minimnya pengawasan dari orang tua.
Selain itu, penyalahgunaan minuman keras, narkoba, dan zat adiktif juga menjadi ancaman serius.
Baca Juga: Dari Komunitas ke Solusi Nyata, KOMITKABE ke-5 Percepat Akselerasi Digital Daerah
Libur panjang dan suasana perayaan sering dimanfaatkan sebagian remaja untuk mencoba hal-hal terlarang tanpa mempertimbangkan dampak kesehatan dan hukum.
Susanto menilai, paparan zat adiktif pada usia remaja berpotensi menimbulkan ketergantungan jangka panjang serta merusak perkembangan mental dan emosional anak.
Ancaman lainnya adalah tawuran, vandalisme, dan berbagai bentuk pelanggaran hukum.
Baca Juga: Telkom Tancap Gas ke Kampus, BUMN Digital Perluas Pengaruh di Pendidikan Tinggi
Berkumpul hingga larut malam di lingkungan rawan, tanpa tujuan jelas dan tanpa pendampingan orang tua, sering kali berujung pada konflik antarkelompok.
Aksi perusakan fasilitas umum, coret-coret, hingga bentrokan fisik bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga menyeret remaja ke proses hukum yang dapat berdampak panjang.
Tak kalah mengkhawatirkan, Susanto juga menyoroti maraknya tantangan berbahaya di media sosial yang sering muncul saat malam tahun baru.
Remaja terdorong melakukan aksi ekstrem demi konten dan pengakuan, tanpa menyadari risiko keselamatan yang mengintai.
Kondisi ini diperparah dengan minimnya literasi digital serta lemahnya kontrol penggunaan gawai.
Baca Juga: Wajib Coba! 10 Bumbu Olesan Jagung Bakar Paling Favorit Sambut Tahun Baru 2026
Susanto menegaskan, Tahun Baru seharusnya menjadi momentum refleksi dan kebersamaan keluarga, bukan ajang uji nyali atau pelampiasan euforia.
Ia mengajak para orang tua untuk meningkatkan pengawasan, membatasi aktivitas anak di luar rumah, serta membangun komunikasi yang terbuka dan tegas.
“Tahun baru tidak boleh menjadi celah bagi anak untuk terpapar aktivitas negatif, berisiko, dan merugikan masa depan,” tegas Susanto, dikutip dari JPNN, 28 Desember 2025.
Ia berharap perayaan pergantian tahun dapat diarahkan pada kegiatan positif yang aman, mendidik, dan memperkuat nilai tanggung jawab pada anak dan remaja.***




