BEKASI.POJOKSATU.id - Dalam usia muda, Habib Hasan bin Jafar Assegaf sudah merintis dakwah. Pria kelahiran 26 Februari 1977 itu saat ini dikenal sebagai majelis taklim yang memiliki banyak jemaah di Jabodetabek dan berbagai daerah lain, majelis taklim tersebut dikenal dengan nama Majelis Nurul Musthofa.

Pada usia 20 tahun, Almarhum memulai dakwah di wilayah Sukabumi. Karena kegigihan dan metode dakwahnya yang melembutkan hati, Habib Hasan bin Jafar Assegaf mendapatkan banyak jemaah di sana.

Tetapi, pria kelahiran Empang, Kota Bogor, itu harus kembali ke kampungnya lantaran sang ibunda, Syarifah Fatmah Alatas, sakit.

Baca Juga: Kabar Duka, Pimpinan Majelis Nurul Musthofa Habib Hasan Assegaf Meninggal Dunia

Selepas itu, Habib Jafar melanjutkan perjalanan dakwah ke berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu tempat di timur Indonesia yang pernah dijelajahi adalah Timor Timur.

Tahun 1999, Habib Hasan peri ke Jakarta lantaran mendengar informasi bahwa gurunya Habib Umar bin Hud Alatas berpulang.

Di sana Habib Hasan bin Jafar Assegaf melihat kondisi pemuda saat itu dan berkeinginan kuat menuntun mereka ke jalan yang baik sesuai dengan tuntunan agama. Para pemuda kerap bermaksiat, tidak menjalankan syariat agama, apalagi mereka tidak mengetahui siapa wali-wali Allah dan menjalankan sunnah Rasulullah SAW.

Baca Juga: Tabligh Akbar Habib Umar bin Hafidz Sepekan Lagi, Ini yang Perlu Dipersiapkan

Akan tetapi, saat itu Habib Hasan belum memulai dakwah di Jakarta lantaran kondisi yang belum memungkinkan. Habib Hasan pun sempat kembali ke Empang, Kota Bogor, untuk meneruskan perniagaan orang tuanya.

Kehadiran dua orang pemuda yang mengajak Habib Hasan berdakwah ke Jakarta membuat tekadnya semakin kuat meskipun saat itu belum ada rencana kembali ke Jakarta.

Wilayah yang pertama kali dirintis di Jakarta adalah Ciganjur, Jakarta Selatan. Di sana Habib Hasan memulai dengan pembacaan ratib dan pembacaan Maulid Simthuddurrar. Perjalanan Majelis Al Irfan binaan Habib Hasan tidaklah semulus yang diduga, tetapi menjalani banyak aral rintangan.

Baca Juga: Profil Habib Umar bin Hafidz, Ulama Internasional yang akan Hadir di Indonesia

Salah satunya adalah berkurangnya jumlah jemaah dari pekan ke pekan. Meski demikian, kesungguhan Habib Jafar dalam berdakwah terbukti hari demi hari. Almarhum mengajak masyarakat satu demi satu untuk mengikuti ratib dan maulid rutinan sampai akhirnya jemaah terus bertambah hingga ke angka ratusan.

Habib Hasan bahkan berangkat ke Solo untuk meminta ijazah Maulid Simthuddurar kepada Habib Anies Al Habsyi. Dalam berdakwah, Habib Hasan juga mengedepankan inovasi, salah satunya menggunakan marawis dan rebana sehingga lebih meriah, ramai dan membuat semangat.

Memasuki tahun 2001, jemaah Majelis Nurul Musthofa semakin ramai hingga hampir menyentuh angka ribuan dan saat itulah majelis itu diberi nama sebagai Majelis Taklim Nurul Musthofa.

Baca Juga: Masjid Luar Batang: Jejak Sejarah Dakwah Habib Husein di Tanah Jakarta

Majelis Nurul Musthofa menjadi salah satu majelis taklim yang berpengaruh dan memiliki banyak jemaah di Jabodetabek. Setiap kali jadwal rutin digelar, ratusan jemaah hadir. Pengelolaan majelis ini dipercayakan bersama adik-adik beliau, yaitu Habib Abdallah, Habib Musthofa dan Habib Ghasim.***