BEKASI.POJOKSATU.ID - Upaya melindungi jutaan warga Jabodetabek dari ancaman banjir tidak hanya dilakukan di darat, tetapi juga dari udara.

Di tengah cuaca ekstrem yang masih membayangi kawasan metropolitan ini, BPBD DKI Jakarta kembali menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) sebagai langkah antisipatif untuk mengendalikan potensi hujan lebat.

Melalui penerbangan khusus, pesawat disiagakan untuk “mengintervensi” awan hujan sebelum curah hujan ekstrem turun di wilayah padat penduduk Jabodetabek.

Baca Juga: 975 Personel Gabungan Turun ke Jalan, Operasi Pekat Jaya Digelar Besar-besaran

Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji mengatakan, langkah ini merupakan bagian dari upaya mitigasi risiko bencana hidrometeorologi yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan.

“Rencana penerbangan Operasi Modifikasi Cuaca ini kami lakukan dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem yang bisa berdampak luas bagi wilayah Jabodetabek,” ujar Isnawa, Sabtu 31 Januari 2026.

Pada pelaksanaan operasi, pesawat OMC melakukan penyemaian awan di sejumlah titik yang dinilai aman.

Baca Juga: Program Wajib Belajar 12 Tahun Diperkuat, PKBM Bekasi Jadi Andalan Pendidikan Nonformal

Sorti pertama dilakukan di perairan utara Jabodetabek pada ketinggian 8.000 hingga 11.000 kaki dengan menggunakan bahan semai Kalsium Oksida (CaO) sebanyak 800 kilogram.

Penyemaian ini bertujuan memicu hujan lebih awal di laut agar awan tidak bergerak ke daratan.

Sorti berikutnya menyasar wilayah barat daya Jabodetabek dengan ketinggian 7.000 hingga 8.000 kaki.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Belum Reda, BPBD DKI Pantau Awan Tiap Hari Lewat Operasi Modifikasi Cuaca

Pada penerbangan ini, digunakan Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 800 kilogram sebagai bahan semai.

Isnawa menegaskan, seluruh proses dilakukan berdasarkan analisis atmosfer dan pemantauan cuaca secara real time.

“Penyemaian awan diarahkan ke wilayah yang lebih aman. Semua keputusan diambil berdasarkan data dan analisis cuaca yang terus kami pantau,” katanya.

Di balik operasi ini, ada misi besar untuk melindungi kehidupan sehari-hari warga Jabodetabek.

Hujan ekstrem yang turun tanpa kendali dapat memicu banjir, melumpuhkan aktivitas ekonomi, mengganggu mobilitas, hingga mengancam keselamatan warga di kawasan rawan genangan.

Baca Juga: Jasamarga Lanjutkan Perbaikan Jalan Tol Jakarta–Cikampek di Sejumlah Segmen Prioritas

BPBD DKI Jakarta menekankan bahwa OMC bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari rangkaian upaya pengendalian banjir.

Evaluasi harian terus dilakukan untuk menilai efektivitas operasi, sekaligus menyesuaikan strategi dengan dinamika cuaca yang cepat berubah.

“Kami terus melakukan evaluasi harian dan memperkuat koordinasi lintas instansi agar upaya pengendalian risiko bencana ini benar-benar berdampak bagi masyarakat,” tegas Isnawa.

Dengan kolaborasi antara BPBD, BNPB, BMKG, TNI Angkatan Udara, serta berbagai pihak terkait.

Operasi dari langit ini diharapkan mampu menjadi tameng awal bagi Jabodetabek, menahan laju hujan ekstrem sebelum berubah menjadi banjir yang merugikan jutaan warga.***