BEKASI.POJOKSATU.ID - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, kondisi ruas Tol Jakarta-Cikampek menjadi sorotan.

Kerusakan jalan yang muncul berulang kali ternyata bukan semata karena usia aspal, melainkan kombinasi curah hujan tinggi dan beban kendaraan berat yang melintas setiap hari, khususnya di jalur padat Cikunir hingga Cikarang.

PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) mengakui dua faktor tersebut menjadi penyebab utama munculnya lubang di sejumlah titik.

Baca Juga: Hindari Jalan Berlubang, Pria 58 Tahun Tewas Tertabrak Truk Trailer di Bekasi

Intensitas hujan yang tinggi dalam beberapa pekan terakhir mempercepat degradasi permukaan aspal.

Air yang masuk melalui retakan kecil membuat struktur jalan melemah, terlebih saat dilindas kendaraan bertonase besar secara terus-menerus.

VP Corporate Secretary & Legal PT JTT, Ria Marlinda Paallo, mengatakan pihaknya telah mengerahkan 10 tim per malam untuk mengantisipasi dampak kerusakan yang bisa membahayakan pengguna jalan.

Baca Juga: Camat Medan Satria Turun Langsung ke Rawa Pasung, Aduan Parkir Liar Tak Dibiarkan Berlarut

“Fokus utama kami sebelum Lebaran adalah meminimalisir gangguan di jalan tol, termasuk penanganan lubang yang kami lakukan setiap hari selama 24 jam,” ujar Ria, dikutip dari Radar Bekasi, Kamis 19 Februari 2026.

Menurutnya, jalur dari Cikunir hingga Cikarang menjadi titik yang paling rawan.

Ruas tersebut dikenal sebagai lintasan padat kendaraan logistik dan truk bertonase besar.

Baca Juga: Dari Kolong Fly Over Jadi Ruang Kreatif, Skatepark Bekasi Diserbu Anak Muda Saat Ramadan

Beban berlebih yang kerap melampaui kapasitas jalan membuat aspal lebih cepat aus dan retak.

Senior Manager Representative Office 1 PT JTT, Amri Sanusi, menjelaskan setiap tim di lapangan mampu menangani 10 hingga 15 lubang per malam.

Jika dikalkulasikan, setidaknya 120 hingga 150 lubang diperbaiki setiap hari.

“Kalau dikalkulasikan, setiap hari ada sekitar 150 lubang yang kami tangani,” kata Amri.

Ia menegaskan, hujan dan truk over dimension over load menjadi kombinasi yang sulit dihindari dalam mempercepat kerusakan.

Baca Juga: Bhabinkamtibmas Karangmekar Ajak Warga Hubungi Call Center 110 Jika Ada Laporan

Air hujan yang menggenang akan meresap ke celah aspal, sementara tekanan berat kendaraan memperbesar retakan hingga akhirnya membentuk lubang.

“Lubang boleh ada, tapi tidak boleh lama. Umurnya maksimal dua hari harus sudah tertangani,” tegasnya.

Perbaikan dilakukan melalui skema ‘Jendela Pemeliharaan’ mulai pukul 22.00 WIB hingga 05.00 WIB saat arus lalu lintas lebih lengang.

Baca Juga: Datang sebagai Pembeli, Pria Ini Justru Curi Uang Pedagang Lansia di Bekasi

Namun dalam kondisi hujan ekstrem, pekerjaan juga dilakukan pada siang hari meski berisiko menambah kepadatan.

“Kemarin saat hujan cukup tinggi, kami tambah waktu penanganan dari pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Memang berdampak pada kepadatan, tetapi ini demi keselamatan pengguna jalan,” jelas Ria.

Metode yang digunakan pun disesuaikan dengan tingkat kerusakan.

Baca Juga: Tempat Berburu Takjil di Bekasi, Ini 9 Lokasi Favorit Saat Bulan Ramadan

Untuk lubang kecil dilakukan patching, sedangkan kerusakan berdekatan ditangani dengan metode spetting dan overlay agar struktur jalan lebih kuat dan tahan lama.

Langkah percepatan ini ditargetkan mampu menekan jumlah lubang mendekati nol pada H-10 Lebaran.

Dengan volume kendaraan yang diprediksi melonjak signifikan saat mudik, kondisi jalan yang prima menjadi syarat mutlak untuk menjaga keselamatan.

JTT berharap kombinasi pengawasan rutin, respons cepat maksimal 2x24 jam, serta koordinasi dengan pihak terkait dapat meminimalkan risiko kecelakaan akibat jalan rusak.

Di tengah cuaca yang belum stabil dan lalu lintas logistik yang padat, perang melawan lubang di Tol Japek menjadi pekerjaan tanpa henti demi memastikan perjalanan pemudik tetap aman dan lancar menuju kampung halaman.***