BEKASI.POJOKSATU.ID - Saat sebagian besar kota terlelap, denyut ekonomi rakyat justru terus bergerak di sudut-sudut Bekasi.
Warung tenda, pedagang kaki lima, hingga kedai kopi sederhana yang buka 24 jam menjadi wajah nyata ketahanan UMKM di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Aktivitas kuliner malam hari bukan sekadar memenuhi kebutuhan perut warga, tetapi menjadi penggerak ekonomi kecil yang hidup di luar jam kerja formal.
Baca Juga: Waspada! BMKG Prediksi Hujan Lebat dan Angin Kencang hingga 31 Desember
Di kawasan-kawasan seperti Kalimalang, Summarecon Bekasi, Galaxy, hingga sepanjang Jalan Ahmad Yani, puluhan warung tenda dan gerobak makanan tetap menyala hingga dini hari.
Pembelinya datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pekerja shift malam, pengemudi ojek online, buruh pabrik, hingga anak muda yang mencari ruang berkumpul murah meriah.
Perputaran uang mungkin tidak besar dalam satu transaksi, tetapi berlangsung konsisten setiap malam.
Baca Juga: Malam Tahun Baru 2026, LRT dan KRL Siap Layani Warga Hingga Dini Hari
Bagi para pelaku UMKM, jam malam justru menjadi waktu paling produktif. Banyak pedagang mengaku omzet terbesar mereka datang setelah pukul 22.00 WIB hingga menjelang subuh.
Dengan modal terbatas, mereka mengandalkan keuletan dan jam operasional panjang untuk bertahan.
Dalam satu malam, satu warung tenda bisa mempekerjakan dua hingga lima orang, mulai dari juru masak, pelayan, hingga penjaga parkir informal.
Baca Juga: 40 Km Jalan Kabupaten Akan Diperbaiki, Anggaran Rp156 Miliar Disiapkan
Fenomena kuliner 24 jam ini juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang sulit mengakses pekerjaan formal.
Tidak sedikit pedagang yang sebelumnya terkena pemutusan hubungan kerja atau terdesak biaya hidup, lalu memilih membuka usaha makanan sederhana pada malam hari.
Dengan biaya sewa yang lebih murah dan pengawasan yang relatif longgar, malam menjadi ruang hidup bagi ekonomi rakyat.
Di tengah naiknya harga bahan pokok dan tekanan biaya operasional, ketahanan UMKM malam hari menunjukkan bahwa ekonomi bawah tidak sepenuhnya bergantung pada jam kerja konvensional.
Mereka membangun ekosistem sendiri yang saling menopang, dari pemasok bahan baku, pedagang, hingga konsumen.
Baca Juga: 130 Rumah Tak Layak Huni Diperbaiki, Pemkot Bekasi Genjot Hunian Sehat Warga
Meski kerap dihadapkan pada persoalan izin, ketertiban, dan fasilitas yang minim, roda ekonomi ini tetap berputar.
Kuliner 24 jam di Bekasi bukan hanya soal nasi goreng, soto, atau kopi panas di dini hari.
Ia adalah simbol daya tahan ekonomi rakyat, tempat harapan kecil terus menyala di bawah lampu tenda.
Selama kota masih membutuhkan, UMKM malam hari akan terus hidup, membuktikan bahwa ekonomi kerakyatan tidak pernah benar-benar tidur.***




