BEKASI.POJOKSATU.id - Film laga fantasi Pasukan 1000 Janda siap tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November 2026. Diproduksi Manara Films, film ini terinspirasi dari kisah perjuangan Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, para perempuan Aceh yang kehilangan suami dalam peperangan lalu bangkit membela tanah kelahirannya. Archie Hekagery bertindak sebagai sutradara sekaligus penulis naskah.

Ceritanya berlatar Selat Malaka pada 1599, saat pasukan Belanda disebut membakar permukiman dan membunuh para lelaki yang berusaha mempertahankan tanah mereka. Laksamana Malahayati, diperankan Atiqah Hasiholan, harus kembali turun ke medan perang tepat setelah suaminya gugur.

Ia kemudian meminta Sultan agar para janda prajurit yang gugur diberi kesempatan bergabung dalam pasukan pertahanan Aceh. Dari permintaan itulah lahir Inong Balee, nama yang berasal dari bahasa Aceh, dengan inong berarti perempuan dan balee berarti janda.

Film ini dikemas sebagai historical fantasy action, bukan dokumenter sejarah, sehingga unsur drama dan aksinya dibuat untuk penonton masa kini. Di balik adegan pertempuran, film ini juga menyoroti sisi lain para perempuan di tengah konflik, bahwa kehilangan justru menjadi titik awal untuk menemukan keberanian dan saling menguatkan.

Cut Mini memerankan Maisaroh, salah satu anggota Inong Balee, bersama Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Jajaran pemeran lain mencakup Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron Smoorenburg, aktor laga asal Belanda yang pernah menjadi lawan Jackie Chan di film Who Am I?.

Para pemain menjalani persiapan khusus, mulai dari latihan laga, penggunaan senjata tradisional Aceh, hingga pendalaman dialek Aceh. Atiqah menjalani workshop aksi selama tiga bulan dan menyebut ini film aksi pertamanya. Cut Mini juga mempelajari bela diri untuk perannya.

Bagi Archie, yang berasal dari Aceh, film ini menjadi wujud kecintaannya pada tanah leluhur sekaligus upaya memperkenalkan sosok pahlawan dari daerahnya kepada generasi muda. Film ini diproduseri Yuda Wirafianto, dengan Mifta Nur Rizki sebagai ko-produser dan Bunga Mentari sebagai produser eksekutif.