BEKASI, POJOKSATU.id - Kabupaten Bekasi tidak hanya dikenal sebagai kawasan industri modern, tetapi juga menyimpan kekayaan Sejarah dan kebudayaan lokal yang sangat berharga. Salah satu warisan budaya penting yang masih berdiri kokoh hingga saat ini adalah Cagar Budaya Saung Ranggon.

Bangunan tradisional berbentuk rumah panggung ini menjadi simbol kearifan lokal sekaligus saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat Bekasi. Bagi yang ingin berkunjung dan melihat langsung peninggalan bersejarah ini, Cagar Budaya Saung Ranggon yang berlokasi di Jalan Kampung Cikedogan, Cikedokan, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Berdasarkan literatur kebudayaan dan sejarah lokal, Saung Ranggon diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-16. Bangunan ini diyakini didirikan oleh Pangeran Rangga, putra dari Pangeran Jayakarta, yang menjadikannya sebagai tempat penyembunyian dan peristirahatan dari incaran pihak penjajah.

Pada masa kolonialisme Belanda, lokasi ini memainkan peran strategis dalam peta perlawanan lokal. Bangunan rumah panggung ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi lokasi menyusun strategi, tempat berkumpulnya para pejuang, serta sarana bertahan hidup warga dalam melawan tekanan penjajahan Belanda.

Karakteristik Arsitektur yang Unik

Dari sudut pandang arsitektur tradisional, Saung Ranggon memiliki ciri khas struktur rumah panggung dengan tiang-tiang kayu yang tinggi. Konstruksi ini pada zaman dahulu berfungsi untuk menghalau serangan binatang buas serta menghindari genangan banjir.

Bentuk bangunannya mencerminkan karakteristik hunian tradisional di wilayah budaya Betawi Ora dan Sunda di Kabupaten Bekasi, dengan penggunaan bahan alami seperti kayu ulin/ki welang, bambu, dan atap tradisional.

Keberadaan Saung Ranggon sebagai situs cagar budaya terus dilindungi agar generasi muda dapat mempelajari akar sejarah, nilai perjuangan, serta identitas kebudayaan daerah.