BEKASI.POJOKSATU.id - Di balik padatnya kawasan permukiman di Kelurahan Bintara Jaya, Bekasi Barat, Kota Bekasi, suara langkah dan tawa anak-anak kecil terdengar jelas memecah sunyinya pagi.
Bagi mayoritas anak perkotaan, pagi hari adalah waktu mereka untuk berangkat sekolah dengan seragam yang rapi dan tas punggung baru. Namun, bagi sebagian anak-anak di kawasan lapak sampah Bintara, dulu sekolah adalah harapan yang hampir mustahil sebelum hadirnya Sekolah Kami.
Situs pendidikan non-formal ini berdiri sebagai oase sosial yang mendedikasikan seluruh aktivitasnya untuk memberikan akses pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga pemulung, buruh lapal, dan kaum pra-sejahtera di Bekasi.
Rekam Sejarah Berawal dari Keperihatinan Menjadi Sekolah Kami
Sekolah Kami didirikan oleh Dr. Irina Amongpraja pada tahun 2001, bermula ketika pendirinya menyaksikan pahit di kawasan Bintara Jaya. Banyak anak usia yang harusnya sekolah tetapi mereka menghabiskan hari-hari dalam memilah sampah di antara bau menyengat demi membantu perekonomian keluarga, tanpa tersentuh pendidikan dasar sama sekali.
Tergerak oleh kondisi sosial ekonomi tersebut, inisiatif mengajar secara mandi mulai dirintis di bawah naungan Yayasan Gemah Ripah. Berawal dari tempat belajar terbuka yang serba terbatas, gerakan tersebut lambat laun berkembang menjadi wadah belajar terstruktur bagi ratusan anak-anak yang membutuhkan akses sekolah dan literasi.
Seiring berjalannya waktu, Sekolah Kami bertransformasi menjadi pusat pendidikan non-formal yang menyelenggarakan program kesetaraan (Paket A, B, dan C) serta pembentukan karakter. Tempat ini hadir bukan untuk menjauhkan anak-anak dari keluarganya, melainkan merangkul mereka agar tetap bisa belajar tanpa kehilangan peran dalam ekosistem keluarga.
Menebus Stigma dan Tantangan Ekonomi
Menjalankan sekolah grastis bagi kalangan bawah bukan tanpa hambatan. Tantangn terbesar sering kali datang dari dorongan ekonomi keluarha. Pada masa-masa awal, tidak sedikit orang tua yang keberatan jika anaknya belajar di kelas, karena akan menyebabkan berkurangnya jumlah barang bekas yang bisa dikumpulkan harian.
Guna mengatasi persoalan tersebut, pengelola menerapkan pola pendekatan yang fleksibel. Jam belajar disesuaikan agar tidak sepenuhnya memutus ritme dalam membantu di lapak, sembari memberikan pengertian bertahap kepada para orang tua mengenai pentingnya literasi dasar bagi masa depan anak.
Kini, Sekolah Kami melayani puluhan siswa dari tingkat usia, pra-sekolah hingga remaja. Lewat dukungan para relawan, pengajar, dan donatur, tempat ini berhasil membantu banyak anak dalam mempelajari hurug hingga meraij ijazah kesetaraan untuk melamar pekerjaan yang lebih layak.




