BEKASI.POJOKSATU.ID - Tak banyak yang tahu bahwa di balik gelar Kiper Terbaik Piala Asia Futsal 2026, Ahmad Habibi pernah menjalani satu fase hidup yang sunyi, tanpa kepastian, dan tanpa penghasilan.

Setahun penuh ia menganggur, bukan karena tak ada pilihan, melainkan karena memilih bertahan pada satu keyakinan yaitu futsal.

Habibi bukan produk akademi elite. Ia tumbuh dari lapangan tarkam, berpindah dari satu pertandingan ke pertandingan lain hanya demi jam terbang.

Baca Juga: Dari TPA ke Energi Listrik, PSEL Burangkeng Diharap Jadi Solusi Sampah Kabupaten Bekasi

Selepas lulus SMK di Bekasi, hidupnya berjalan tanpa rencana pasti. Tak ada kontrak, tak ada gaji bulanan, hanya latihan setiap hari dan turnamen kecil dari Sabtu ke Minggu.

“Orang lihatnya sekarang enaknya aja, dulu latihan tiap hari, enggak ada penghasilan,” kata Habibi, dikutip dari Radar Bekasi, 8 Februari 2026.

Setahun itu menjadi ujian mental. Banyak yang memilih menyerah di fase seperti ini, mencari pekerjaan tetap, atau menganggap mimpi sebagai atlet terlalu berisiko.

Baca Juga: Kalimalang hingga Perbatasan Karawang Rawan, Kabel PJU di Bekasi Kerap Dicuri

Namun Habibi justru memaknai tarkam sebagai sekolah sesungguhnya. Dari situlah ia belajar bertahan di bawah tekanan, menghadapi kekalahan, dan mengasah konsistensi.

“Menang dapat uang, kalah pulang. Kadang bensin pas-pasan,” ujarnya sambil tersenyum.

Tak ada fasilitas mewah. Bahkan untuk berangkat latihan pun sering kali harus berbagi motor dengan teman seperjuangan. Satu motor dipakai bergantian, satu tujuan dijalani bersama.

Baca Juga: Pedagang Es Cincau Keliling Ambruk di Tengah Jalan Bekasi, Polisi Ungkap Penyebabnya

Dari situ tumbuh kedisiplinan dan rasa tanggung jawab, bukan hanya sebagai pemain, tetapi sebagai manusia.

“Dia enggak ada motor, naik motor saya. Saya enggak ada motor, naik motor dia. Udah kayak keluarga,” tuturnya.

Habibi menyadari bakat saja tak cukup. Di lapangan tarkam, banyak pemain berbakat datang dan pergi. Yang bertahan hanyalah mereka yang konsisten.

Setiap hari ia menjaga rutinitas latihan, memperbaiki refleks, memperkuat mental, meski tak tahu kapan hasil akan datang.

Perlahan, kerja keras itu mulai terbayar. Namanya masuk ke radar futsal daerah, lalu nasional.

Baca Juga: Tanggapan Wali Kota Bekasi soal Aksi Pengancaman Menggunakan Golok

Dari Porda Kota Bekasi, PON Papua 2022, hingga akhirnya berdiri di bawah mistar Timnas Futsal Indonesia pada Piala Asia 2026.

“Saya cuma ngasih apa yang saya punya. Sisanya Allah yang atur,” katanya.

Di turnamen itu, Indonesia memang tak keluar sebagai juara. Namun dari perjalanan panjang yang dimulai tanpa gaji dan tanpa jaminan.

Ahmad Habibi membuktikan satu hal penting yaitu konsistensi mampu mengalahkan bakat. Tarkam, bagi Habibi, bukan jalan memutar, melainkan jalan belajar.***