BEKASI.POJOKSATU.ID - Pengoperasian kapal pembersih sungai Sea Hamster 2.0 di Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL) menjadi langkah awal Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam memutus aliran sampah dari sungai ke laut.

Namun di balik peluncuran tersebut, tantangan besar masih membayangi.

Pemerintah daerah mengakui satu kapal saja belum cukup untuk menangani skala persoalan sampah sungai di wilayah ini.

Baca Juga: Pascabanjir Cikarang Utara, Desa dan Kecamatan Bergerak Cepat Bersihkan Kali Ulu

CEO dan Founder Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano, menyebut volume sampah yang mengalir melalui sungai-sungai di Kabupaten Bekasi sangat besar.

Dengan kondisi tersebut, idealnya diperlukan sekitar 10 kapal pembersih sungai untuk benar-benar menghentikan sampah sebelum mencapai laut.

“Tadi ada masukan dari Bu Asda dan dari Pak Kadis bahwasannya Kabupaten Bekasi itu 10. Artinya kita perlu merangkul pihak-pihak lain supaya ada tambahan sembilan kapal supaya kita bisa menyetop sampah tidak masuk laut,” kata Junerosano, Rabu 28 Januari 2026.

Baca Juga: 14.687 Warga DKI Jakarta Hijrah ke Kota Bekasi

Sea Hamster 2.0 bekerja dengan cara menghalangi aliran sampah di sungai, kemudian mengangkutnya ke tepi untuk dipilah dan diolah lebih lanjut.

Dalam satu kali operasi, kapal bertenaga surya ini mampu mengangkut sekitar 100 hingga 200 kilogram sampah.

Kapasitas tersebut dinilai efektif untuk titik tertentu, namun masih jauh dari cukup jika diterapkan pada seluruh aliran sungai di Kabupaten Bekasi.

Baca Juga: Kali Bekasi Meluap, Permukiman di Bekasi Selatan dan Bekasi Timur Terendam

Junerosano menegaskan, kehadiran kapal ini bukan solusi tunggal atas persoalan sampah.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, hingga akhir 2025 Indonesia baru mampu mengelola sekitar 20 hingga 22 persen sampahnya.

Sisanya masih berpotensi mencemari lingkungan, termasuk sungai dan laut.

“Tugas utama kita tetap mencegah sampah dibuang ke sungai. Tapi kalau sampah sudah terlanjur ada di sungai, tidak boleh dibiarkan begitu saja,” ujarnya.

Senada, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bekasi, Ani Gustini, mengakui bahwa tantangan penanganan sampah di daerah aliran sungai tidak bisa ditangani pemerintah sendiri.

Baca Juga: Tri Adhianto Tekankan Profesionalisme Pengurus Koperasi di Musda Dekopinda Kota Bekasi

Ia menyebut kehadiran Sea Hamster 2.0 sangat membantu, namun masih perlu dukungan armada tambahan.

“Ini merupakan pertama kalinya Pemkab Bekasi mendapatkan bantuan Kapal Sea Hamster penjaring sampah sungai dari Jerman. Bantuan ini sangat membantu upaya kami dalam mencegah sampah agar tidak mengalir ke laut,” ujar Ani.

Menurutnya, Kabupaten Bekasi memiliki banyak titik sungai yang rawan tercemar sampah rumah tangga dan berkontribusi terhadap risiko banjir.

“Dengan kolaborasi berbagai pihak, kami berharap jumlah kapal dapat bertambah hingga 10 unit atau lebih, sehingga sampah dari hulu hingga muara dapat dicegah masuk ke laut,” tandasnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan sampah sungai di Bekasi bukan hanya soal teknologi, melainkan juga soal kebijakan, kolaborasi, dan skala penanganan yang harus terus diperluas.***