BEKASI.POJOKSATU.ID - Bau menyengat kembali menyelimuti permukiman warga di Desa Pusaka Rakyat, Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, terutama pada malam hingga dini hari.

Aroma busuk yang datang tak menentu itu membuat warga resah dan memunculkan kekhawatiran serius akan dampaknya terhadap kesehatan, khususnya bagi anak-anak dan lansia yang tinggal di kawasan tersebut.

Warga menduga bau tersebut berasal dari aktivitas pengolahan sampah di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Jakarta Utara, yang berjarak hanya beberapa kilometer dari permukiman.

Baca Juga: Sudah 1 Bulan Kebanjiran, Warga Bekasi Bertahan Hidup dengan Perahu

Meski pada siang hari bau nyaris tak tercium, kondisi berubah drastis saat malam tiba ketika arah angin bertiup dari barat menuju timur.

“Kalau siang memang sering tidak ada bau. Tapi malam sampai pagi, baunya bisa menyengat sekali,” ujar Marzuki, warga Kampung Tambun Permata.

Menurut Marzuki, bau tersebut muncul tanpa pola yang jelas. Kadang tercium tengah malam, kadang menjelang subuh.

Baca Juga: Genjot Pendapatan Daerah, Tirta Bhagasasi Tinjau Ulang Kerja Sama Bisnis

Intensitasnya pun berbeda-beda, namun dalam kondisi tertentu sangat menyengat hingga memaksa warga menutup hidung dan mulut, bahkan saat berada di dalam rumah.

“Bau itu tidak bisa diprediksi. Kadang tengah malam, kadang pagi sekali. Pokoknya tidak menentu,” katanya.

Aroma yang tercium digambarkan seperti sampah membusuk dalam jumlah besar.

Baca Juga: Potongan Mirip Uang Rp100 Ribu dan Rp50 Ribu Ditemukan di TPS Liar Setu, Publik Bertanya-tanya

Situasi ini membuat warga khawatir, mengingat sebelumnya bau serupa pernah dikaitkan dengan gangguan kesehatan yang dialami masyarakat sekitar.

“Wah, nggak bisa dirasain lah. Bau bener. Pokoknya bau sampah yang sangat busuk,” ucap Marzuki.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Pada tahun sebelumnya, keluhan bau dari RDF Rorotan sempat berujung pada penghentian sementara operasional setelah sejumlah warga mengeluhkan gangguan kesehatan.

Trauma akan kejadian itu masih membekas, terutama bagi keluarga yang memiliki anak kecil dan anggota keluarga lanjut usia.

“Yang kami takutkan dampaknya ke anak-anak. Lansia juga kasihan, napas mereka kan sudah tidak sekuat kita,” kata Haryono (69), warga yang tinggal di wilayah perbatasan Bekasi-Jakarta Utara.

Baca Juga: Evaluasi Kerja Sama Dimulai, Tirta Bhagasasi Siapkan Reformasi Besar di 2026

Haryono menyebut bau paling parah justru terasa pada malam hari. Dalam kondisi tertentu, masker pun disebut tidak cukup untuk menahan aroma menyengat tersebut.

“Kalau malam hari, apalagi anginnya dari barat, baunya luar biasa. Sampai masuk ke dalam rumah. Pakai masker saja masih kalah baunya,” ujarnya.

Warga mengaku telah berulang kali menyampaikan keluhan ke aparat desa. Namun, bau menyengat yang kembali muncul awal tahun ini membuat kekhawatiran soal kesehatan kembali mencuat.

Mereka berharap ada langkah nyata agar kualitas udara di lingkungan permukiman tidak terus memburuk.

Bagi warga, persoalan ini bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi menyangkut hak dasar untuk hidup sehat dan aman di lingkungan sendiri.***