BEKASI.POJOKSATU.ID - Tren peningkatan jumlah jemaah haji mandiri menjadi perhatian serius dalam penyelenggaraan ibadah haji nasional.
Pendamping Haji Daerah Kabupaten Bekasi, Zuli Zulkipli, menilai sistem pelayanan saat ini perlu segera beradaptasi agar lebih adil, inklusif, dan mampu menjangkau seluruh kategori jemaah tanpa terkecuali.
Menurut Zuli, jemaah haji mandiri di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Bekasi, terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Kondisi ini menjadi sinyal penting bahwa sistem pelayanan haji tidak bisa lagi disamaratakan, melainkan harus disesuaikan dengan kebutuhan riil jemaah di lapangan.
“Jemaah mandiri ini jumlahnya cukup signifikan, sehingga ke depan perlu ada perhatian lebih agar mereka juga mendapatkan pelayanan yang optimal, sebagaimana jemaah lainnya,” ujar Zuli, dikutip dari laman resmi Pemkab Bekasi, 14 April 2026.
Ia mengungkapkan, di Kabupaten Bekasi sendiri terdapat sekitar 116 jemaah yang berangkat secara mandiri dengan latar belakang yang beragam.
Situasi ini menuntut pendekatan pelayanan yang lebih fleksibel dan responsif, terutama dalam hal pendampingan selama proses ibadah berlangsung.
Zuli menilai, selama ini sistem pendampingan bagi jemaah mandiri masih belum sekuat yang diberikan kepada jemaah yang tergabung dalam Kelompok Bimbingan Ibadah Haji.
Baca Juga: 50 Ribu Buruh Akan Kepung DPR RI Saat May Day 2026
Akibatnya, muncul potensi kesenjangan layanan yang dapat berdampak pada kenyamanan dan kelancaran ibadah jemaah.
“Perbedaannya lebih kepada sistem pendampingan. Di KBIH sudah terfasilitasi dengan baik, sedangkan jemaah mandiri membutuhkan penyesuaian dan kemandirian lebih dalam menjalani prosesnya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan untuk membandingkan secara negatif, melainkan menjadi bahan evaluasi konstruktif bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperbaiki sistem pelayanan haji secara menyeluruh.
Menurutnya, sistem yang ideal adalah sistem yang mampu memberikan pelayanan setara bagi seluruh jemaah, tanpa memandang jalur keberangkatan.
Hal ini penting agar tidak ada lagi kesenjangan dalam pendampingan yang dirasakan oleh jemaah di lapangan.
Zuli juga mendorong agar ke depan sistem pelayanan haji dapat lebih terintegrasi, transparan, dan berbasis teknologi informasi.
Dengan demikian, akses layanan bisa lebih mudah dijangkau oleh seluruh jemaah, termasuk mereka yang memilih jalur mandiri.
Baca Juga: Rem Tak Berfungsi Dengan Baik, Truk Fuso Seruduk 8 Kendaraan di Lampu Merah Legenda
“Harapannya tentu semua jemaah bisa mendapatkan pelayanan yang setara, karena tujuan utamanya sama, yaitu menjalankan ibadah dengan khusyuk dan lancar,” katanya.
Ia menambahkan, sebagai PHD, dirinya tetap berkomitmen untuk memberikan pendampingan terbaik kepada seluruh jemaah tanpa membedakan status.
Pendekatan pelayanan yang humanis dan inklusif menjadi prinsip utama dalam menjalankan tugas di lapangan.
“Kami berupaya hadir untuk semua jemaah, termasuk yang mandiri, agar mereka tetap merasa didampingi dan terbantu selama proses ibadah berlangsung,” ungkapnya.***




