BEKASI.POJOKSATU.ID - Program inovasi pendidikan bertajuk pembelajaran RAMAH mulai diterapkan di sejumlah sekolah sebagai upaya menjaga kualitas proses belajar selama bulan Ramadan.
Program yang digagas Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Jawa Barat di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini dirancang agar kegiatan belajar mengajar tetap efektif meskipun waktu belajar di sekolah lebih singkat.
Salah satu sekolah yang menjadi model penerapan program ini adalah SDN Wanasari 01 di Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi.
Sekolah tersebut dipilih karena dinilai proaktif dalam mengikuti program pendampingan yang diberikan oleh BBGTK Jabar.
Iswara Ahli Madya BBGTK Jawa Barat, Chaerun Anwar, menjelaskan bahwa pembelajaran RAMAH merupakan model pembelajaran yang dirancang khusus untuk memastikan proses belajar tetap bermakna selama Ramadan.
“Pembelajaran RAMAH ini adalah sebuah model pembelajaran yang memiliki lima tahapan, mulai dari rekognisi pengetahuan hingga pada tahap hasil belajar yang kemudian dikomunikasikan kepada teman sekelas atau bahkan ditampilkan dalam bentuk showcase di sekolah,” ujar Chaerun, di SDN Wanasari 01, Rabu 11 Maret 2026.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan guru mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu tema pembelajaran.
Dengan cara itu, materi yang diajarkan tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.
Baca Juga: Pertamina Siagakan 109 SPBU di Cirebon, Antisipasi Lonjakan BBM 27,2 Persen Saat Mudik Lebaran
“Melalui pembelajaran RAMAH ini terjadi integrasi antar disiplin ilmu. Misalnya ketika guru mengajarkan IPS, di dalamnya juga bisa beririsan dengan IPA, pendidikan agama, hingga numerasi,” katanya.
Menurutnya, pendekatan integratif ini membuat siswa tetap mendapatkan pengalaman belajar yang lengkap meskipun durasi belajar selama Ramadan lebih singkat dibandingkan hari sekolah biasa.
Materi numerasi, misalnya, dapat disisipkan dalam berbagai aktivitas seperti membuat grafik, tabulasi data, maupun kegiatan lain yang berkaitan dengan pengolahan angka.
“Dengan cara itu, waktu belajar yang singkat di bulan Ramadan tetap bermakna dan target kurikulum tetap tercapai seperti pada hari belajar biasa,” jelas Chaerun.
Program pendampingan ini dilaksanakan selama lima minggu, dimulai sebelum Ramadan hingga setelah Lebaran.
Dalam setiap pertemuan, tim dari BBGTK melakukan observasi, refleksi bersama, serta memberikan umpan balik terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan para guru.
Kepala SDN Wanasari 01, Sulistyowati, mengatakan sekolahnya bisa terpilih sebagai sekolah model karena para guru memiliki semangat tinggi untuk mengikuti program tersebut sejak awal dibuka.
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Ekonomi di Balik Pembunuhan Aktivis Pelabuhan di Bekasi
“Ketika ada informasi dari BBGTK, saya langsung menyampaikan kepada guru-guru. Walaupun kuotanya terbatas, kami bergerak cepat dan akhirnya semua guru bisa ikut belajar secara konsisten,” ujarnya.
Ia menilai metode pembelajaran RAMAH sangat relevan dengan pendekatan pembelajaran mendalam yang sedang dikembangkan di sekolahnya karena mampu menghubungkan berbagai mata pelajaran dalam satu kegiatan belajar.
“Saya sangat bangga dan bahagia karena program ini benar-benar bermanfaat. Tanpa mengeluarkan biaya pun guru bisa meningkatkan kompetensinya melalui program yang difasilitasi pemerintah,” tutupnya.***




