BEKASI.POJOKSATU.ID — Ratusan warga, mayoritas ibu-ibu dari Desa Waluya dan Perumahan Bumi Citra Lestari (BCL), memadati gerbang SMAN 3 Cikarang Utara pada Kamis, 19 Juni 2025, sebagai bentuk protes atas hasil seleksi jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Mereka menuntut penjelasan mengapa anak-anak mereka gagal diterima, meski jarak rumah ke sekolah sangat dekat.
Aksi tersebut sempat memanas, dengan warga membakar ban di depan sekolah dan menutup akses Jalan Perumahan BCL. Aksi berakhir sore hari usai pihak sekolah mengumpulkan data warga yang tidak lolos seleksi untuk diarahkan ke jalur prestasi.
Baca Juga: Ijazah Guru Ditahan, Al Kareem Islamic School Diduga Langgar Etika Ketenagakerjaan
Niken (46 tahun), salah satu warga Desa Waluya, mengaku telah tiga hari bolak-balik ke sekolah untuk memperjuangkan anaknya agar bisa diterima di sekolah tersebut. Ia mempertanyakan kejelasan sistem seleksi, karena rumahnya hanya berjarak sekitar 500 meter dari sekolah.
“Kalau rumah saya 500 meter tidak diterima, yang diterima yang rumahnya di mana? Kami lengkapkan semua berkas—KK, KTP, akta, titik koordinat—tapi tetap tidak diterima. Sistemnya justru menyulitkan,” keluh Niken.
Ia membandingkan pengalaman anak pertamanya yang dulu diterima di SMAN 3 Cikarang Utara melalui jalur zonasi (PPDB), dengan anak keduanya yang kini gagal meski kondisi tempat tinggal tak berubah.
Senada, Lena (52 tahun), warga Perumahan BCL yang rumahnya hanya 400 meter dari sekolah, juga mengaku kecewa karena anaknya gagal lolos. Ia mencatat ada sekitar 218 anak dari kawasan sekitar sekolah yang bernasib sama.
Baca Juga: Pungutan Liar Masih Bayangi Guru di Bekasi, FPHI: Perlu Reformasi Total
“Yang dekat nggak keterima, yang jauh malah masuk. Warga sudah mencium bau permainan—ada dugaan titipan dari berbagai pihak. Harapannya kami bisa diperlakukan adil,” kata Lena.***




