BEKASI.POJOKSATU.ID - Pergerakan tanah yang terjadi di Komplek Kodam, Desa Serang, Kecamatan Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, mengungkap persoalan serius terkait kondisi geografis dan faktor lingkungan di kawasan tersebut.

Hujan deras yang mengguyur wilayah itu pada Minggu lalu memicu longsor dan pergeseran tanah, menyebabkan rumah warga ambles hingga 70 sentimeter.

Berdasarkan hasil asesmen awal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi, peristiwa ini dipengaruhi karakteristik tanah yang gembur, terutama di wilayah yang berada di sekitar bantaran Sungai Cikadu.

Baca Juga: Trotoar Bukan Lapak Dagang, PKL di Depan Pasar Permata Ditertibkan

Kondisi tersebut membuat tanah mudah bergerak saat menerima beban air berlebih akibat curah hujan tinggi.

“Wilayah Desa Serang, khususnya di area bantaran Sungai Cikadu, memiliki struktur tanah yang gembur sehingga sangat rentan terhadap pergerakan tanah saat hujan deras,” ujar Pj Kepala Desa Serang, Achmad Fadilah, dikutip dari Radar Bekasi, 23 Januari 2026.

Selain faktor tanah, erosi sungai turut memperparah kondisi. Aliran Sungai Cikadu yang mengalami pengikisan tebing secara perlahan melemahkan struktur tanah di sekitarnya.

Baca Juga: Mogok Pedagang Daging Picu Kerugian Rp2 Miliar per Hari di Bekasi

Ketika hujan ekstrem datang, tanah yang sudah kehilangan daya ikat itu pun bergerak dan menyebabkan amblesan di area permukiman.

Dampak longsor tidak hanya dirasakan pada bangunan rumah, tetapi juga infrastruktur lingkungan. Sedikitnya empat rumah warga mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda.

Ada rumah yang bagian belakangnya ambles, sementara teras rumah lainnya turun hingga ke badan jalan. Jalan penghubung antarpermukiman pun kini tidak dapat dilalui kendaraan.

Baca Juga: Ratusan Pedagang Daging Bekasi Mogok Massal, Pasar Baru Jadi Simbol Perlawanan

Rahmat (50), salah satu warga terdampak, mengaku baru kali ini mengalami peristiwa longsor separah itu selama 45 tahun tinggal di lokasi tersebut.

Ia menceritakan bagaimana perubahan kondisi tanah terjadi sangat cepat.

“Sekarang tanahnya tambah dalem turunnya, sudah sampai 70 cm. Tanah di sini sudah gembur sekali,” kata Rahmat.

Menurutnya, perubahan cuaca yang semakin ekstrem membuat warga waspada.

Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat dinilai menjadi pemicu utama pergerakan tanah.

Baca Juga: Kabag Kesra Pemkab Bekasi Meninggal Dunia di Tol Cipularang

Kondisi ini diperparah oleh lokasi permukiman yang berada di area rawan bencana, dekat aliran sungai.

“Kalau sampai rubuh, saya sudah siap-siap lewat pintu belakang untuk nyelamatin diri,” ujarnya.

Selain di Komplek Kodam, longsor juga terjadi di Perumahan Imanan Extension, Desa Serang, akibat erosi Sungai Cikadu yang menggerus tanah penyangga.

Baca Juga: Warga Kali Ulu Datangi Marketing Gallery Cinity, Sampaikan Protes Soal Banjir

Longsoran tersebut bahkan mengancam keberadaan pos keamanan perumahan.

Pemerintah desa bersama BPBD telah melakukan koordinasi untuk penanganan awal, termasuk rencana pemasangan bronjong sebagai penahan tanah.

“Kami berupaya berkoordinasi untuk penyediaan bronjong dan mengajukan dukungan program CSR perusahaan di sekitar untuk penanganan infrastruktur terdampak,” tandas Achmad Fadilah.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perubahan cuaca ekstrem, dikombinasikan dengan kondisi geografis rawan, dapat memicu bencana serius di kawasan permukiman jika tidak diantisipasi sejak dini.***