BEKASI.POJOKSATU.ID - BPBD Kabupaten Bekasi mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat kesiapsiagaan masyarakat di tengah belum tertanganinya puluhan tanggul kritis di bantaran Kali Bekasi dan Kali Citarum.
Langkah ini dilakukan menyusul adanya 71 titik tanggul yang dinilai rawan jebol, sementara proses perbaikan masih berada di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai dan dilakukan secara bertahap.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bekasi, Muchlis, mengatakan pihaknya tidak tinggal diam meski tidak memiliki kewenangan langsung dalam perbaikan tanggul.
BPBD kini fokus membekali masyarakat agar siap menghadapi potensi bencana banjir.
“Melalui Destana, masyarakat diharapkan mampu melakukan evakuasi mandiri saat terjadi bencana, sehingga respons bisa lebih cepat,” ujar Muchlis, dikutip dari Radar Bekasi, 14 April 2026.
Program Desa Tangguh Bencana menjadi salah satu strategi utama yang dijalankan BPBD.
Hingga saat ini, sekitar 110 desa telah mendapatkan pembinaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Selain itu, BPBD juga menjalankan program Satuan Pendidikan Aman Bencana untuk meningkatkan pemahaman siswa dan lingkungan sekolah terhadap risiko bencana.
Baca Juga: 50 Ribu Buruh Akan Kepung DPR RI Saat May Day 2026
Edukasi ini dinilai penting agar kesadaran akan mitigasi bencana dapat dimulai sejak dini.
Muchlis menjelaskan bahwa kondisi tanggul yang belum diperbaiki membuat masyarakat di sejumlah wilayah harus lebih waspada, terutama di daerah yang berpotensi terdampak banjir.
“Penanganan akan dilakukan bertahap. Bahkan, kementerian terkait juga sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi tanggul yang perlu segera diperbaiki,” katanya.
Wilayah utara Kabupaten Bekasi seperti Kecamatan Cabangbungin dan Muaragembong menjadi area yang paling rawan terdampak.
Penyempitan aliran sungai dan sedimentasi disebut sebagai faktor utama yang memperparah kondisi banjir di wilayah tersebut.
Dengan kondisi tersebut, BPBD menilai bahwa kesiapan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana.
Evakuasi mandiri yang cepat dan tepat dinilai dapat mengurangi potensi korban saat banjir terjadi.
Baca Juga: Rem Tak Berfungsi Dengan Baik, Truk Fuso Seruduk 8 Kendaraan di Lampu Merah Legenda
Muchlis juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas instansi dalam menangani persoalan banjir secara menyeluruh.
Ia menyebut keterlibatan berbagai dinas seperti Sumber Daya Air, Bina Marga, hingga Perumahan sangat dibutuhkan untuk mempercepat penanganan.
“Kami berharap kolaborasi antarinstansi ini dapat mempercepat penanganan masalah banjir di Kabupaten Bekasi,” pungkasnya.
Dengan langkah edukasi dan pemberdayaan masyarakat ini, BPBD berharap warga tidak hanya menjadi korban, tetapi juga mampu menjadi bagian dari solusi dalam menghadapi ancaman bencana banjir yang masih mengintai.***




