BEKASI.POJOKSATU.id - Perbaikan darurat tanggul penahanan air Sungai Citarum yang jebol di wilayah Muara Gembong, Bekasi, ditargetkan rampung tiga hari.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, Jaya Sampurna, mengatakan, bahwa penganan darurat telah mulai diturunkan ke lokasi sejak Selasa kemarin.
"Hari ini peralatan sudah berjalan. Ada satu titik yang sudah tertutup, terutama yang bobol besar ini," ungkap Jaya, Rabu 21 Januari 2026.
Jaya menjelaskan, banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum merupakan persoalan yang cukup kompleks.
"tanah di wilayah Muara Gembong dan sekitar ini tanah aluvial. Tanah aluvial itu tanah yang berasal dari endapan sehingga penanganannya memang harus sedikit ekstra sekali,” kata dia.
Untuk sementara, BBWS Citarum baru dapat melakukan penanganan darurat dengan menutup tanggul yang jebol menggunakan geobag yang diperkuat dengan dolken agar aliran air dapat segera tertahan.
Baca Juga : Tanggul Jebol Muara Gembong, BBWSC: Penanganan Permanen Butuh Perencanaan Matang
Dalam penanganan darurat tersebut, BBWS Citarum menurunkan satu kontainer geobag dengan total sekitar 1.000 unit. Setiap geobag memiliki volume sekitar setengah meter kubik.
Karena itu, BBWSC menilai perlu adanya kajian dan simulasi untuk memastikan solusi permanen benar-benar andal.
“Penanganan dengan menggunakan sheet pile, ripetment segala macam itu banyak yang memang kalau kondisinya air besar itu banyak yang kolaps juga,” jelas Jaya.
Di sisi lain, pengaruh rob terhadap aliran sungai juga akan dihitung secara teknis. BBWSC menyebut perlu simulasi agar desain penanganan permanen bisa menahan kombinasi banjir hujan dan rob.
Baca Juga : Kondisi Tanggul di Muaragembong Kian Rawan, Camat Soroti Sejumlah Titik Kritis di Bantaran Citarum
“Kita harus menghitung juga pengaruh rob itu ke dalam sungai itu seberapa besar. Nah ini perlu kita simulasikan seperti apa sehingga permanennya bisa kita andalkan,” tutur Jaya.
Untuk tingkat kerawanan, Jaya menyebutkan kondisi di lapangan saat ini masih tergolong tinggi karena muka air Sungai Citarum belum sepenuhnya surut.
"Kalau kondisi air masih seperti ini, tingkat kerawanannya tinggi. Kami berharap cuaca membaik sehingga air bisa surut dengan sendirinya. Kalau sudah surut, tingkat kerawanan akan menurun," tutup dia.***




