BEKASI.POJOKSATU.ID - Krisis pengelolaan sampah di Kabupaten Bekasi kembali memunculkan kekhawatiran serius.

TPA Burangkeng dilaporkan semakin kewalahan menampung kiriman sampah harian, memicu ancaman nyata terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Penumpukan truk sampah yang terjadi berulang kali menjadi sinyal kuat bahwa daya tampung TPA tersebut telah berada di titik kritis.

Baca Juga: KPK Dalami 29 Bidang Tanah Milik Bupati Bekasi yang Tak Cantumkan Asal-usul di LHKPN

Pantauan di lokasi pada Senin 22 Desember 2025 menunjukkan antrean panjang truk pengangkut sampah mengular sejak pagi hari.

Puluhan kendaraan besar terlihat berhenti berjam-jam menunggu giliran membuang muatan.

Kondisi ini tidak hanya menghambat operasional pengangkutan sampah dari berbagai wilayah di Kabupaten Bekasi.

Baca Juga: Lima Jam Lebih, KPK Geledah Ruang Bupati dan Tiga Dinas di Lingkungan Pemkab Bekasi

Tetapi juga menandakan terjadinya bottleneck serius dalam sistem pengelolaan sampah daerah.

Sumber utama persoalan diduga berasal dari kondisi kolam dan zona penampungan sampah di dalam TPA Burangkeng yang telah penuh.

Volume sampah yang masuk setiap hari jauh melampaui kapasitas olah harian.

Baca Juga: KPK Kembali Geledah Kantor Pemkab Bekasi Terkait Kasus Dugaan Korupsi Bupati Bekasi

Alat berat yang tersedia masih terus bekerja meratakan tumpukan, namun tidak mampu mengejar laju sampah yang terus berdatangan.

Di balik antrean truk yang mengular, ancaman yang lebih besar justru mengintai secara perlahan.

Gunungan sampah yang semakin tinggi berpotensi memicu pencemaran lingkungan.

Mulai dari rembesan lindi yang dapat mencemari tanah dan air tanah, hingga emisi gas berbahaya seperti metana yang berdampak pada kualitas udara.

Warga yang tinggal di sekitar TPA Burangkeng menjadi kelompok paling rentan.

Baca Juga: Plt Bupati Bekasi Dorong Tata Kelola Bersih, Percepat Anggaran dan Rencana Pendampingan KPK

Bau menyengat, meningkatnya populasi lalat dan tikus, serta potensi penyakit saluran pernapasan dan penyakit kulit menjadi risiko yang tak terhindarkan jika ini terus dibiarkan.

“Kami khawatir kalau terus begini. Bau makin parah, apalagi kalau hujan,” ujar salah seorang warga sekitar TPA, dikutip dari Instagram @bekasi.terkini.

Kondisi ini juga berdampak pada sistem pengangkutan sampah di wilayah lain.

Baca Juga: Plt Bupati Bekasi Tekankan Stabilitas Pemerintahan dan Pelayanan Publik Tetap Berjalan Normal

Ketika truk tertahan di TPA Burangkeng, sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) di permukiman terancam tidak terangkut tepat waktu.

Akibatnya, sampah berpotensi menumpuk di lingkungan warga, memperluas dampak krisis hingga ke pusat-pusat permukiman.

Berulangnya penumpukan di TPA Burangkeng memunculkan pertanyaan serius mengenai kesiapan pemerintah daerah dalam menghadapi persoalan sampah jangka panjang.

Baca Juga: Polres Metro Bekasi Kota Larang Kembang Api Saat Malam Tahun Baru, Warga Diajak Gelar Doa Bersama

Selama ini, solusi yang diterapkan dinilai masih bersifat darurat dan tambal sulam, tanpa terobosan sistemik seperti pengurangan sampah dari sumber dan penguatan daur ulang

Pengamat lingkungan menilai, jika tidak ada langkah tegas dan terukur, TPA Burangkeng berpotensi berubah menjadi “bom waktu” ekologis.

Risiko longsoran sampah, pencemaran air, hingga konflik sosial akibat dampak kesehatan bukanlah skenario yang mustahil.

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi terkait langkah darurat untuk mengurai antrean truk maupun strategi jangka menengah menghadapi over kapasitas TPA Burangkeng.

Publik pun kembali menunggu komitmen nyata pemerintah daerah untuk tidak sekadar mengelola krisis, tetapi benar-benar menyelesaikan akar masalah.

Baca Juga: Kombes Sumarni Resmi Pimpin Polres Metro Bekasi, Pernah Tangani Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak Di Subang

Tanpa perubahan kebijakan yang serius, TPA Burangkeng dikhawatirkan akan terus menjadi simbol kegagalan pengelolaan sampah.

Sementara ancaman lingkungan dan kesehatan masyarakat kian mendekat.***