BEKASI.POJOKSATU.id – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bhayangkara Jakarta Raya (Ubhara Jaya) Kampus II Bekasi menggelar aksi damai untuk menyikapi tragedi September Hitam.

Aksi mahasiswa tersebut berlangsung di Taman Kota, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Koordinator Lapangan (Korlap) aksi, Rangga Pramudya, menjelaskan bahwa terdapat empat tuntutan yang disuarakan terkait peristiwa yang terjadi pada bulan September.

Menurut Rangga, tuntutan pertama adalah mengecam segala bentuk tindakan represif aparat penegak hukum terhadap rakyat yang menyampaikan pendapat secara damai. Mahasiswa juga menuntut aparat negara kembali pada fungsi sejatinya, yaitu melindungi, mengayomi, dan mengabdi pada kepentingan rakyat, bukan pada kekuasaan.

Baca Juga: Polres Metro Bekasi Kota Imbau Orang Tua Awasi Anak Cegah Terlibat Kericuhan

Selain itu, mahasiswa menyerukan penghentian segera praktik kriminalisasi terhadap aktivis, mahasiswa, jurnalis, serta masyarakat sipil yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tuntutan terakhir, mereka mengingatkan pemerintah bahwa demokrasi hanya bisa berjalan jika kebebasan rakyat dijaga, bukan ditindas.

"September Hitam ini mengingatkan kami mahasiswa, masyarakat, mengenang daripada tragedi-tragedi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM)," jelas Rangga kepada awak media, Jumat, 5 September 2025.

Ia menambahkan, pada sejumlah titik aksi, banyak masyarakat menjadi korban akibat tindakan represif aparat penegak hukum. Beberapa korban di antaranya adalah Affan Kurniawan (21), Andika Lutfi Falah (16), Septinus Sesa (39), Saiful Akbar (43), Muhammad Akbar Basri (26), Sarinawati (26), Rusmadiansyah (25), Sumari (60), Rheza Sendy Pratama (21), dan Iko Juliant Junior (19).

"Kami berdiri di sini bukan untuk melawan negara tetapi untuk mengingatkan bahwa negara ini lahir dari perjuangan rakyat maka suara rakyat tidak boleh dibungkam oleh kekerasan aparat," tegasnya.

Baca Juga: 24 Orang Jadi Tersangka Kerusuhan di Jalan Pangeran Jayakarta

Dalam aksinya, mahasiswa juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling menjaga satu sama lain agar tidak terprovokasi pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan momentum untuk melakukan tindakan anarkis.

"Kami ingin tetap menyikapi atau terus bergerak bersama rakyat untuk mengingatkan agar terus bisa menjaga satu sama lain, intinya banyak kalangan provokator yang terjadi. Kami selaku mahasiswa akan tetap mengawal demokrasi ini sebagaimana mestinya, bukan arogan secara anarkis atau apapun itu," tambah Rangga.

Mahasiswa juga meminta agar pemerintah bisa membuka ruang dialog dan menerima aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui aksi damai.

"Terhadap Pemkot Bekasi kami melihat bagaimana saat memang ada beberapa yang turun aksi, Pemkot Bekasi cukup dalam hal duduk bersama yang dimana menerima aspirasi dari teman-teman mahasiswa, teman-teman organisasi eksternal ataupun masyarakat," tutup Rangga.***