BEKASI.POJOKSATU.ID - Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kota Bekasi pada Kamis 25 Desember 2025 menjadi pengingat serius akan pentingnya evaluasi tata kelola air perkotaan.

Hujan deras berintensitas tinggi yang disertai angin kencang menyebabkan genangan hingga banjir di tiga kecamatan.

Yaitu terdiri dari kecamatan Pondok Gede, Jatiasih, dan Bekasi Timur, dengan ketinggian air mencapai 135 sentimeter di titik terparah.

Baca Juga: Kajari Bekasi Diganti Kilat, Eddy Sumarman Hanya Bertugas Empat Bulan

Kepala Seksi Rekonstruksi dan Rehabilitasi BPBD Kota Bekasi, Idham Khalid, menyebut banjir dipicu oleh curah hujan tinggi dalam durasi cukup lama yang membuat saluran air tidak mampu menampung debit air.

Kondisi tersebut diperparah oleh limpasan air dari wilayah hulu dan kawasan permukiman padat.

“Genangan dan banjir terjadi karena intensitas hujan tinggi. Air meluap ke permukiman dan jalan utama di beberapa kecamatan,” ujar Idham, dikutip dari Pojok Bekasi, 27 Desember 2025.

Baca Juga: Jabodetabek Tak Bersahabat Hari Ini, Awan Tebal dan Hujan Mengancam

Di Kecamatan Pondok Gede, Perumahan Jatibening Permai menjadi salah satu wilayah terdampak terparah dengan ketinggian air sekitar 130 sentimeter.

BPBD bersama Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) mengoperasikan dua unit pompa untuk mempercepat surutnya genangan.

Sementara di Perumahan Duta Indah RW 15, air setinggi 50 sentimeter sempat merendam rumah warga sebelum akhirnya surut pada malam hari.

Baca Juga: Skema Ijon Diduga Turun-Temurun, KPK Dalami Proyek Bekasi Sebelum Era Ade

Kecamatan Jatiasih juga menghadapi kondisi serius. Di Perumahan Bumi Nasio Indah, genangan setinggi 30–50 sentimeter terjadi.

Sementara Perumahan Dosen IKIP mengalami banjir paling parah dengan ketinggian air mencapai 135 sentimeter. Empat unit mesin pompa dikerahkan untuk menurunkan debit air.

Di wilayah Bekasi Timur, Jalan Raya Nonon Sonthanie tergenang air setinggi 50–70 sentimeter, mengganggu arus lalu lintas.

Satu unit pompa tetap dan pompa mobile diturunkan guna mempercepat penanganan.

Peristiwa ini kembali menyoroti tantangan tata kelola air perkotaan di Bekasi, mulai dari kapasitas drainase, sedimentasi saluran, hingga keterbatasan pompa air di kawasan rawan banjir.

Baca Juga: OTT KPK Belum Reda, Jaksa Agung Copot Kajari Bekasi

Pengamat tata kota menilai, perlu ada pendekatan menyeluruh yang tidak hanya bersifat reaktif saat banjir terjadi.

Tetapi juga preventif melalui normalisasi saluran, pengelolaan daerah resapan, serta koordinasi lintas wilayah.

BPBD Kota Bekasi menyatakan akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi titik-titik rawan banjir.

Baca Juga: Polisi Ringkus 2 Pengedar Ganja di Tambelang

Masyarakat juga diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama mengingat potensi cuaca ekstrem masih tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Banjir yang terjadi di tengah perayaan Natal ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah.

Untuk memperkuat perencanaan dan tata kelola air perkotaan demi meminimalkan risiko banjir di masa mendatang.***