BEKASI.POJOKSATU.ID - Ratusan sopir angkot di Kota Bekasi menggelar aksi mogok dan demonstrasi di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Bekasi Selatan, Selasa 10 Februari 2026.
Aksi tersebut menjadi bentuk protes keras terhadap pengoperasian jalur baru Bus Trans Bekasi Keren (Beken) yang dinilai berdampak langsung pada pendapatan sopir angkot.
Dalam aksinya, para pengemudi mendesak Pemerintah Kota Bekasi untuk segera turun tangan membuka dialog dan menghadirkan solusi yang adil bagi semua pihak.
Baca Juga: Fasilitas Umum Rusak Terungkap, Camat Bekasi Barat Perintahkan Evaluasi Berkala
Mogok massal ini menyebabkan sedikitnya lima trayek angkot tidak beroperasi sementara, yakni trayek 25 rute Rawa Panjang–Stasiun Cakung, trayek 07 Terminal Bekasi–Seroja, trayek 11 Bantar Gebang–Terminal Bekasi, trayek 10 Pondok Ungu–Terminal Bekasi, serta trayek 30 Terminal Bekasi–Taman Harapan Baru.
Terhentinya layanan angkot tersebut sempat memicu kemacetan di ruas Jalan Ahmad Yani, terutama pada jam-jam sibuk siang hari.
Para sopir menilai jalur Bus Trans Beken Koridor 1 rute Halte Harapan Indah–Terminal Bekasi terlalu tumpang tindih dengan trayek angkot yang telah beroperasi bertahun-tahun.
Baca Juga: Pendapatan Sopir Angkot Bekasi Anjlok hingga 70 Persen, Terdampak Transportasi Online dan TransBeken
Akibatnya, jumlah penumpang angkot menurun drastis sejak layanan transportasi massal tersebut mulai dioperasikan.
Kondisi ini dinilai mengancam keberlangsungan mata pencaharian ribuan sopir yang menggantungkan hidup dari angkot.
“Sebelum Trans Beken jalan saja penghasilan kami sudah pas-pasan. Sekarang penumpang makin sepi. Kami bukan menolak transportasi baru, tapi minta solusi yang adil,” ujar salah seorang sopir angkot, 10 Februari 2026.
Baca Juga: Demo Sopir Angkot di Bekasi Berujung Sweeping, Jalan Ahmad Yani Macet 3 Kilometer
Dalam demonstrasi itu, para sopir meminta Pemkot Bekasi membuka ruang dialog untuk membahas penyesuaian rute, pengaturan jam operasional, hingga skema kompensasi bagi sopir angkot yang terdampak.
Mereka berharap pengembangan transportasi publik modern tidak dilakukan dengan mengorbankan moda transportasi rakyat kecil.
“Kalau memang rutenya tumpang tindih, ya harus dibicarakan. Bisa diatur ulang atau ada kompensasi. Jangan kami ditinggal begitu saja,” kata sopir lainnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan para sopir masih bertahan di sekitar Jalan Ahmad Yani sambil menunggu kepastian dari pemerintah daerah.
Baca Juga: Akses Utama Warga Rusak Parah, Aktivitas Ekonomi Tambun Utara Tersendat
Spanduk protes dibentangkan, bahkan sebagian sopir meluapkan kekecewaan melalui coretan tulisan sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan transportasi kota.
Para pengemudi berharap Pemkot Bekasi segera memfasilitasi pertemuan resmi agar konflik tidak berlarut-larut.
Mereka menegaskan bahwa modernisasi transportasi seharusnya berjalan beriringan dengan perlindungan terhadap pengemudi angkot sebagai bagian dari sistem transportasi dan ekonomi lokal Kota Bekasi.***




