BEKASI.POJOKSATU.ID - Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan di Kota Bekasi.

Seorang siswa SMKN 15 Kota Bekasi, Sapta Prihantono, meninggal dunia setelah menjadi korban luka bakar dalam peristiwa kebakaran SPBE di Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustikajaya.

Sapta yang merupakan siswa kelas X Teknik Mesin 1 itu mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Selasa 7 April 2026, setelah menjalani perawatan intensif akibat luka yang dideritanya.

Kabar duka tersebut dibenarkan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Penjamin Mutu SMKN 15 Kota Bekasi, Dhani Irawan. “Ya, benar,” ujarnya, dikutip dari Radar Bekasi, Rabu 8 April 2026.

Baca Juga: Tekan Pengangguran, Pemkot Bekasi Dukung Pelatihan Vokasi Nasional 2026 dengan Target Serapan Kerja

Kepergian Sapta tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga, tetapi juga bagi lingkungan sekolah.

Ia dikenal sebagai sosok siswa yang pendiam, namun memiliki sikap yang baik dan tidak pernah menimbulkan masalah.

“Anaknya pendiam, tapi baik,” ungkap Dhani.

Tragedi ini semakin memilukan karena Sapta tidak menjadi satu-satunya korban dalam keluarganya.

Baca Juga: Akhirnya Punya Gedung Sendiri! SMAN 21 Bekasi Segera Dibangun Tahun Ini, Siswa Tak Lagi Menumpang

Ia terdampak bersama ayah dan tiga kakaknya. Hingga saat ini, ayah serta ketiga saudaranya masih menjalani perawatan di RS Citra Arafiq dan RSUD Kabupaten Bekasi.

Rumah keluarga Sapta yang berada tidak jauh dari lokasi SPBE turut hancur akibat ledakan dan kebakaran yang terjadi.

Kondisi tersebut membuat keluarga korban harus menghadapi kehilangan sekaligus dampak kerusakan tempat tinggal.

“Rumahnya dekat SPBE, rusak terdampak ledakan dan terbakar,” jelas Dhani.

Ia juga mengaku belum mengetahui secara pasti kondisi ibu korban saat kejadian berlangsung. “Untuk ibunya, saya kurang tahu keberadaannya saat kejadian,” tambahnya.

Peristiwa ini menambah daftar panjang korban jiwa akibat kebakaran SPBE tersebut. Sebelumnya, dua korban lain juga dilaporkan meninggal dunia, yakni Suyadi (62) dan Jaimun (61), yang mengalami luka bakar lebih dari 90 persen.

Baca Juga: PPPK Jatiasih Dituntut Langsung Beri Dampak Nyata, Pelayanan Publik Jadi Sorotan

Kepergian Sapta menjadi pukulan berat, terutama bagi rekan-rekan sekolahnya yang kehilangan sosok teman yang dikenal sederhana dan tidak banyak bicara.

Di balik sikap pendiamnya, Sapta meninggalkan kesan mendalam bagi orang-orang di sekitarnya.

Tragedi ini menjadi pengingat bahwa dampak sebuah bencana tidak hanya soal angka korban, tetapi juga tentang kisah hidup yang terhenti dan keluarga yang harus menanggung kehilangan.***