BEKASI.POJOKSATU.id – Praktik pengoplosan beras yang melibatkan perusahaan-perusahaan besar mulai menggerus kepercayaan konsumen dan memukul pedagang tradisional. Di Kota Bekasi, isu ini memicu kekhawatiran warga sekaligus menurunkan daya beli secara signifikan.
Udin (34 tahun), pemilik agen beras di kawasan Jalan Pangeran Jayakarta, mengaku sering menerima pertanyaan dari pelanggan terkait isu beras oplosan yang marak belakangan ini.
“Pertanyaan dari konsumen banyak kalau untuk sekarang, kayaknya konsumen juga takut ya dengan isu beras oplosan,” ujar Udin saat ditemui, Rabu, 23 Juli 2025.
Baca Juga: Kota Bekasi dan Izumisano Jepang Jajaki Kerja Sama di 9 Bidang Strategis
Meski Udin memastikan bahwa beras di tokonya dibeli langsung dari penggilingan dan tidak melalui proses pengemasan ulang, kekhawatiran konsumen tetap berdampak langsung pada omzet. Ia menyebut penjualannya turun drastis.
“Hampir 50 persen turun. Daerah sini memang sepi, tapi sekarang lebih sepi lagi,” katanya.
Udin juga merasakan dampak dari naiknya harga beli di tingkat penggilingan. Harga beras yang sebelumnya berkisar Rp13.000–Rp13.200 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp13.300–Rp13.400 per kilogram, tergantung kualitas.
“Kita udah nggak kuat jualnya,” keluhnya.
Baca Juga: Usai Dicopot, Kepala SDN di Jaticempaka Kini Hanya Bertugas sebagai Guru
Isu beras oplosan mencuat setelah pemerintah mengungkap praktik curang yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan besar. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut, beras medium dioplos dengan kualitas premium, kemudian dijual dengan harga premium. Praktik ini merugikan negara hingga hampir Rp100 triliun.
“Ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar,” ungkap Tito.
Kondisi pasar kian diperparah dengan naiknya harga beras yang kini melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kenaikan terjadi di semua zona, termasuk Zona 1 yang mencakup Pulau Jawa sebesar 1,95 persen.
Pantauan di panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) menunjukkan, harga beras medium di Kota Bekasi per Kamis, 23 Juli 2025, mencapai Rp13.000 per kilogram—lebih tinggi dari HET Zona 1 sebesar Rp12.500. Sementara harga beras premium justru tercatat lebih rendah dari HET, yakni Rp14.900 dibandingkan HET sebesar Rp15.450.
Menanggapi situasi ini, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto memerintahkan Dinas Perdagangan untuk memperketat pengawasan di pasar-pasar rakyat.
Baca Juga: Usai Dicopot, Kepala SDN di Jaticempaka Kini Hanya Bertugas sebagai Guru
“Saya sudah meminta Kepala Dinas Perdagangan untuk kemudian mengambil langkah-langkah, sehingga mereka memantau perkembangan yang ada di pasar-pasar,” ujar Tri.
Tri menilai, pasar rakyat perlu mendapat perhatian lebih dibanding retail modern yang pasokannya lebih mudah ditelusuri.
“Yang perlu kita lindungi adalah mereka yang berada di pasar-pasar rakyat, yang mereka pada akhirnya bukan hanya beras premium, tetapi mungkin beras yang super dicampur dengan yang tidak super. Jadi harus lebih dalam lagi,” jelasnya.
Ia juga mengimbau warga agar tetap waspada dan selektif dalam membeli beras, serta tidak mudah tergiur oleh kemasan atau merek.***




