BEKASI.POJOKSATU.ID - Lonjakan nilai ekonomi pengelolaan sampah di Kota Bekasi tidak lepas dari peran relawan bank sampah di tingkat RW.

Di balik capaian pengelolaan sampah yang kini menembus hampir Rp300 juta per bulan, terdapat kerja sunyi para relawan yang secara konsisten menggerakkan pemilahan, penimbangan, hingga pencatatan sampah, meski dengan keterbatasan biaya operasional.

Direktur bank sampah induk patriot Kota Bekasi, Mulyanto Diharjo, menyebut relawan merupakan tulang punggung keberlangsungan bank sampah di lingkungan.

Baca Juga: KPK Periksa Anggota DPRD Bekasi Terkait Dugaan Aliran Dana Suap Ijon Proyek

Namun, hingga kini masih banyak relawan yang menjalankan aktivitas pengelolaan sampah tanpa dukungan operasional yang memadai.

"Relawan ini motor penggerak di lapangan. Tapi jujur, kami masih terbatas di biaya operasional untuk mereka. Ini yang membuat laju pertumbuhan belum bisa maksimal," ujar Mulyanto, Senin 12 Januari 2026.

Data BSIP menunjukkan, dari 1.015 RW yang telah memiliki bank sampah, baru 602 unit yang aktif melakukan penimbangan dan pelaporan secara rutin.

Baca Juga: DPRD Kota Bekasi Akan Panggil Manajemen RSUD Terkait Utang Rp70 Miliar

Masih ada sekitar 400 bank sampah RW yang belum aktif, sebagian besar terkendala oleh kesiapan sumber daya manusia dan dukungan operasional bagi para relawan pengelola.

Padahal, setiap RW di Kota Bekasi telah menerima anggaran Rp100 juta melalui program penataan lingkungan.

Anggaran tersebut membuka peluang besar untuk mendukung aktivitas bank sampah, mulai dari penyediaan sarana prasarana hingga penguatan kelembagaan.

Baca Juga: Manajemen Bantah Isu Kebangkrutan RSUD Kota Bekasi Akibat Utang Rp70 Miliar

Namun dalam praktiknya, kebutuhan operasional harian relawan, seperti transportasi, konsumsi, hingga insentif, masih menjadi persoalan.

"Kalau pendampingan dan dukungan operasional bisa lebih masif, pertumbuhannya akan jauh lebih cepat. Saat ini relawan bekerja lebih banyak karena panggilan kepedulian lingkungan," kata Mulyanto.

Ia menambahkan, lonjakan kinerja bank sampah dalam tiga bulan terakhir menunjukkan potensi besar ekonomi sampah berbasis RW.

Volume sampah yang dikelola meningkat dari sekitar 65 ton menjadi 130 ton per bulan, sementara nilai ekonominya melonjak dari Rp120 juta menjadi hampir Rp300 juta per bulan.

Capaian ini, menurutnya, tidak mungkin terjadi tanpa dedikasi relawan di lapangan.

Baca Juga: Dari Summarecon hingga Galaxy, 3 Spot Nongkrong Bekasi yang Lagi Naik Daun

Selain berdampak ekonomi, peran relawan juga berkontribusi langsung terhadap pengurangan timbunan sampah kota.

Sepanjang 2025, total pengurangan sampah melalui bank sampah telah melampaui 1.000 ton, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Mulyanto menegaskan, keberlanjutan program bank sampah sangat bergantung pada keberlanjutan peran relawan.

Baca Juga: Mulai Rp130 Ribuan, Rekomendasi Apartemen Nyaman untuk Staycation Singkat

Oleh karena itu, ia berharap ke depan ada kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan relawan sebagai aktor utama pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

"Kalau relawan diperkuat, dampaknya bukan hanya lingkungan yang lebih bersih, tapi juga ekonomi warga yang semakin bergerak,' ujarnya.***