BEKASI.POJOKSATU.id – Proyeksi kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bekasi untuk tahun anggaran 2026 yang hanya sebesar 0,93 persen menjadi perhatian Badan Anggaran (Banggar) DPRD setempat. Kenaikan tersebut dinilai tidak mencerminkan potensi riil daerah maupun strategi pemungutan yang sebelumnya telah dijelaskan oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD).

Anggota Banggar DPRD Kota Bekasi, Saifuddaulah, mendesak TAPD agar melakukan perhitungan ulang secara menyeluruh. Ia menilai proyeksi yang disampaikan terlalu rendah bila dibandingkan dengan target rata-rata kenaikan PAD dalam dokumen RPJMD yang mencapai 5,3 persen.

“Kita minta data lengkap dan dasar perhitungannya. Jangan sampai terjadi kekeliruan asumsi,” ujar Saifuddaulah, Minggu, 3 Agustus 2025.

Baca Juga: DPRD Kota Bekasi Minta TKK yang Gagal PPPK Tidak Diberhentikan

Dalam rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2026, total pendapatan daerah diperkirakan meningkat 1,27 persen menjadi Rp6,88 triliun. Angka itu terdiri dari PAD senilai Rp4,13 triliun dan pendapatan transfer sebesar Rp2,75 triliun.

Namun, menurut Saifuddaulah, ada keanehan dalam komposisinya. Pajak daerah justru diprediksi turun 0,13 persen, padahal potensi penerimaannya cukup besar, termasuk dari sektor perhotelan dan restoran, opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), serta Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

Sementara itu, retribusi daerah diproyeksikan meningkat 8,05 persen. Ia meyakini angka ini bisa didorong lebih tinggi—hingga di atas 10 persen—bila pemungutannya dilakukan secara digital dan transparan.

Baca Juga: Menuju Swasti Saba Wistara, Pemkot Bekasi Gelar Rapat Persiapan Verifikasi Kota Sehat

“Kalau digitalisasi retribusi benar-benar dijalankan, kenaikan bisa lebih tinggi, bahkan mencapai 12 persen,” tambahnya.

Berdasarkan analisisnya, jika PAD tahun 2025 yang sebesar Rp4,096 triliun dinaikkan sebesar 10 persen, maka PAD tahun 2026 semestinya bisa mencapai Rp4,608 triliun.

Dengan proyeksi seperti itu, total pendapatan daerah Kota Bekasi berpotensi menembus Rp7,3 triliun atau mengalami kenaikan sekitar 7,5 persen dari tahun sebelumnya.***