BEKASI.POJOKSATU.id - Keterlambatan upah yang terjadi di RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid (CAM) Kota Bekasi membuat ribuan pegawai berada dalam tekanan ekonomi. Akibat belum cairnya remunerasi, sejumlah karyawan terpaksa menjadi korban pinjol demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Seorang pegawai RSUD yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa pembayaran remunerasi sejak November hingga awal tahun 2026 belum diterima secara penuh.
Kondisi tersebut memaksa para pegawai mencari pinjaman, baik dari kerabat maupun melalui layanan pinjaman online.
Baca Juga: Pemotongan Upah Pegawai RSUD Kota Bekasi Dinilai Pengaruhi Semangat Kerja dan Pelayanan
“Pembayaran remunerasi dari bulan November sampai awal tahun ini belum dibayarkan sepenuhnya oleh pihak RSUD,” ujarnya kepada awak media, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menyebut, keterlambatan upah membuat kondisi keuangan pegawai semakin terhimpit. Bahkan untuk kebutuhan dasar seperti makan, sejumlah pegawai harus meminjam uang dalam jumlah kecil.
“Ada yang hanya untuk beli beras sampai harus pinjam Rp300 ribu. Banyak juga yang akhirnya ke pinjol karena sudah tidak ada pilihan lain,” katanya.
Diketahui, keterlambatan pembayaran remunerasi ini diduga berkaitan dengan kondisi keuangan RSUD yang terbebani utang hingga mencapai sekitar Rp70 miliar.
Baca Juga: Manajemen RSUD Kota Bekasi Lakukan Efisiensi, Penghasilan Sebagian Pegawai Dipotong
Seiring situasi tersebut, manajemen RSUD juga dikabarkan mulai menerapkan kebijakan rasionalisasi pendapatan pegawai sejak Januari 2025.
Sejumlah tunjangan mengalami pemangkasan, di antaranya uang transportasi yang sebelumnya Rp1 juta per bulan kini dipotong sebesar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Sementara itu, uang jaga malam yang semula Rp62.500 per shift kini hanya dibayarkan Rp25.000.
“Yang paling terasa memang uang jaga malam. Pemotongannya sangat besar,” tutupnya.***




